Penghina Presiden dan Hakim MK di Blitar Ditahan

Penghina Presiden dan Hakim MK di Blitar Ditahan
Ilustrasi ( Foto: Istimewa )
Aries Sudiono / FMB Kamis, 18 Juli 2019 | 10:01 WIB

Blitar, Beritasatu.com - Cyber Crime Satreskrim Polres Blitar Kota, akhirnya menahan Ida Fitri (44), pemilik akun Facebook (FB) Aida Konveksi pascaditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus penyebaran konten penghinaan terhadap Presiden RI Joko Widodo, Rabu (17/7/2019) sore. Ida dijebloskan ke sel tahanan wanita di Mapolsek Sukorejo pascamenjalani pemeriksaan penyidik selama empat jam di Mapolres Blitar Kota dengan dijerat pelanggaran Pasal 45A Ayat 2 jo Pasal 28 Ayat 2 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE) jo Pasal 207 KUHP.

“Syarat formal untuk melakukan penahanan sudah terpenuhi, karena ancaman hukuman pelanggaran pasal itu adalah enam tahun penjara. Kami melakukan penahanan tersangka untuk 20 hari ke depan,” ujar Kasat Reskrim Polres Blitar Kota, AKP Heri Sugiono, dalam keterangannya semalam.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Satreskrim Polres Blitar Kota akhirnya menetapkan Ida Fitri sebagai tersangka pelanggaran Pasal 45A Ayat 2 jo Pasal 28 Ayat 2 UU ITE jo Pasal 207 KUHP dengan ancaman hukuman enam tahun penjara. Lewat akun FB miliknya, Ida menyebarkan konten berisi penghinaan terhadap lambang negara, Kepala Negara dan Presiden RI Jokowi.

Ada dua foto yang diunggah, yakni foto mirip Presiden Jokowi yang wajah dan kedua tangannya dibuat seperti mumi yang di bawahnya diberi narasi "the New Firaun". Foto kedua gambar seorang berpakaian atribut hakim lengkap dengan toganya namun bagian wajahnya diganti dengan kepala anjing, lalu di bawahnya dituliskan, "iblis berwajah anjing". Suami tersangka, Aris sebelumnya sudah mengingatkan isterinya (Ida Fitri) agar tidak main-main dengan FB terkait gambar-gambar politis yang menghina orang, apalagi pejabat negara. Namun peringatan suaminya yang bekerja sebagai tenaga honorer sejak tahun 2007 di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Blitar itu tidak digubris pemilik butik Ida Konveksi tersebut. Bahkan gambar-gambar tersebut menurutnya memiliki nilai seni dan artistik, karenanya ia sengaja bagikan via akun FB-nya.

Ida Fitri, ibu dari dua anak warga Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Blitar itu nampak menunduk menghindari kamera wartawan serta berjalan cepat berlindung di balik punggung petugas yang mendampinginya. Ida juga memilih diam seribu bahasa dan menyembunyikan wajahnya dengan kain penutup kepala yang menyambung dengan sweeter hitam yang dikenakannya. Namun sebelumnya, ia berulangkali menyatakan permohonan maafnya kepada Presiden Jokowi dan Hakim Mahkamah Konstitusi, karena ia sama sekali tidak berniat menghina mereka. Ia mengaku tidak ikut mengeditnya dan itu hanya iseng-iseng karena hanya meneruskan (nge-share) saja dan mengunggahnya, Minggu (30/6) yang lalu.

Menurut penasihat hukum tersangka, Oyik Rudi Hidayat, kliennya ditahan karena ancaman hukuman maksimal kasus yang membelitnya selama enam tahun penjara. “Penahanan itu memang hak penyidik jika ancaman hukumannya lima tahun ke atas,” ujar Oyik sambil membenarkan, kliennya usai diperiksa selama empat jam menjawab 42 pertanyaan penyidik, harus menghuni sel tahanan sementara. Ia akan mengajukan penangguhan penahanan karena kliennya masih memiliki anak kecil dan kebetulan sekarang ini sedang sakit.

Pada bagian lain Oyik membenarkan, bahwa kliennya hanya membagikan foto-foto itu dari kiriman akun FB bernama Thomas Udin Edison dari grup FB, The Voice of The People. Pemilik akun itu kini sedang dalam pelacakan Unit Cyber Crime Ditreskrim Polda Jatim di-back up unit yang sama dari Mabes Polri.



Sumber: Suara Pembaruan