SD di Jombang Ini Hanya Punya 2 Siswa

SD di Jombang Ini Hanya Punya 2 Siswa
Siswa sekolah dasar (SD). ( Foto: Antara )
Aries Sudiono / FMB Kamis, 18 Juli 2019 | 10:13 WIB

Jombang, Beritasatu.com - Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sumberaji II, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur (Jatim) tidak seramai sekolah-sekolah dasar lainnya. Pada tahun ajaran baru 2019-2020, tanpa zonasi pun, SDN yang berada di daerah terpencil itu hanya mendapat dua orang siswa kelas satu, yakni seorang perempuan dan seorang lagi laki-laki. Yang memprihatinkan lagi, untuk siswa-siswi-kelas II, III dan VI, malah kosong melompong karena sejak beberapa tahun terakhir tidak ada siswa baru yang mendaftar.

“Alhamdulillah, setelah empat tahun tidak ada yang mendaftar sebagai siswa baru, kali ini ada dua murid,” aku Surati selaku Kepala SDN Sumberaji II dalam keterangan kepada wartawan, Rabu (17/7/2019).

Minimnya siswa-siswi yang mendaftar di SDN yang dipimpinnya, menurut Surati karena lokasi sekolah hanya berada di tengah-tengah satu kampung yang sepi karena banyak orang tua yang bekerja ke luar kampung. Sementara calon siswa baru dari perkampungan lain relatif sulit menempuh pendidikan dasar di sekolahnya karena lokasinya relatif jauh dan terpencil di daerah hutan kapur. Namun para gurunya yang berjumlah tujuh orang tetap bersemangat mengajar mereka.

Penduduk usia subur di kampung Sumberaji diakui Surati memang sedikit kendati jumlah kepala keluarganya lumayan banyak, sehingga hampir tiap rumah jarang memiliki anak-anak usia sekolah dasar awal. “Yang besar-besar, remaja sudah belajar di bangku SMP atau SMA di wilayah kota kecamatan (Kabuh), sehingga untuk SDN kita jadi melompong,” ujar Surati sambil menambahkan, jika tahun ajaran baru 2019 jumlah pendaftar SDN Sumberaji II hanya dua orang, itu sudah relatif lumayan karena empat tahun terakhir tanpa ada siswa baru.

Minimnya jumlah siswa-siswi di SDN yang dipimpinnya tidak hanya terjadi di kelas satu, namun hampir seluruh kelas kekurangan siswa. Siswa di kelas lainnya juga sangat minim, yakni kelas IV hanya dua orang dan kelas V ada enam orang serta kelas II, III dan VI tidak ada siswanya. Jadi, total hanya ada 12 siswa dari kelas I-VI, ujarnya. Meski jumlah siswa baru dan siswa-siswi lamanya sangat minim, Surati berharap pemerintah tetap memperhatikan kelangsungan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah yang dipimpinnya.

Menurut Andrian, siswa baru kelas satu mengaku senang meskipun di kelasnya hanya berdua dengan teman perempuan sebayanya. Bahkan kedua siswa-siswi baru itu bercita-cita kelak ingin menjadi guru guna memajukan pendidikan anak-anak di kampungnya yang terpencil di kawasan hutan kapur itu.



Sumber: Suara Pembaruan