Sekjen FSKN: Jokowi Pelindung Kebudayaan dan Adat Indonesia

Sekjen FSKN: Jokowi Pelindung Kebudayaan dan Adat Indonesia
Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) RA Yani WSS Kuswodidjojo (kiri) bersama Presiden Joko Widodo (kanan). ( Foto: ist )
Yudo Dahono / YUD Kamis, 18 Juli 2019 | 10:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) RA Yani WSS Kuswodidjojo mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo adalah seorang pemimpin yang melindungi kebudayaan dan adat di Indonesia. Hal itu terbukti dengan diayominya raja-raja dan keraton kerajaan/kesultanan di seluruh Indonesia.

"Presiden Jokowi memberi secercah harapan bagi kami di FSKN, karena maruah kerajaan dan kesultanan Indonesia itu benar-benar dijaga, sebab dari sanalah sumber dan akar budaya Indonesia yang sesungguhnya," kata Yani yang akrab disebut Bunda Yani, melalui keterangan tertulis, Kamis (18/7/2019).

Menurutnya, alasan budaya Indonesia wajib dijaga sebab ketika budaya asing masuk ke Indonesia dengan derasnya hanya bisa diredam melalui persatuan di dalam budaya.

"Kita memerlukan ketahanan nasional dan itu ada didalam budaya yang telah menyatu didalam UUD 1945, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika," ujarnya.

"Kerajaan di Indonesia mulai dari Aceh hingga Papua sekarang masih ada berjumlah 50-an kerajaan, kami senang dan bangga karena presiden Jokowi sangat memperhatikan bahkan beberapa kerajaan sedang direvitalisasi misalnya istana Maimun Sumatera Utara, alasannya pemerintah ingin menjadikan kerajaan dan keraton Indonesia sebagai destinasi pariwisata," imbuh Pengageng Kesultanan Sumenep ini.

Melalui Jokowi, Bunda Yani secara pribadi merasakan mendapat seorang pemimpin yang memiliki jiwa yang melestarikan budaya bangsanya.

"Sebab itu saya rela menjadi relawan di Bravo Lima mendukung Jokowi, saya keliling ke kerajaan-kerajaan dan mencoba menerangkan kepada masyarakat penerus kerajaan agar bisa menjadi benteng daya tahan untuk nasional, akibat dari gempuran globalisasi, kita itu harus bisa mengkombinasikannya antara kesenian dengan budaya adat tradisi yang kita punya, melalui pemimpin yang pemerhati budaya," sebutnya.

Badan PBB UNESCO saat ini telah mulai memperhatikan budaya kerajaan melalui upaya kerja sama di dalam segala hal, terutama dalam literasi.

"FSKN ada MOU dengan Unesco melalui Kemko Maritim, selalu ingin bekerja sama dalam setiap event, untuk bagaimana budaya kerajaan dan keraton, bukan hanya tarian dan musik tapi bagaimana meliterasi semua sejarah ini, karena penting bagi generasi penerus kita, contohnya di Sumenep yang terkenal adalah jamu-jamuan dan obat-obatan herbal masih tertulis dalam tulisan arab gundul, nah Unesco maunya semuanya dalam literasi," ungkapnya.

Sebagai informasi, Presiden Jokowi juga telah menyetujui adanya dana abadi kebudayaan yang ditujukan sebagai salah satu bentuk pendanaan pemajuan kebudayaan sebagai pendamping APBN dan APBD yang langsung dapat diakses oleh pemangku kepentingan dan penerima sebagai pelaksanaan dari amanat UU no 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan.



Sumber: BeritaSatu.com