Kuasa Hukum Novel Nilai Tim Bentukan Kapolri Lupakan Kasus Buku Merah

Kuasa Hukum Novel Nilai Tim Bentukan Kapolri Lupakan Kasus Buku Merah
Alghiffari Aqsa ( Foto: Istimewa )
Fana Suparman / JAS Kamis, 18 Juli 2019 | 11:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim Pakar bentukan Kapolri, Jenderal Tito Karnavian gagal mengungkap pelaku teror terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Alih-alih mengungkap pihak yang diduga sebagai pelaku, Tim Pakar menyebut adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan atau excessive use of power oleh Novel dalam menangani sejumlah perkara korupsi hingga menimbulkan dendam dari pelaku teror.

Atas dasar itu, Tim Pakar merekomendasikan kepada Kapolri untuk mendalami probabilitas motif sekurang-kurangnya enam kasus high profile yang ditangani oleh Novel. Enam kasus tersebut yakni korupsi proyek e-KTP, suap sengketa pilkada yang melibatkan eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, kasus Sekretaris MA.

Selain itu juga, kasus Wisma Atlet, kasus suap perizinan yang melibatkan Bupati Buol Amran Batalipu serta satu kasus lagi yang bukan perkara korupsi atau suap, melainkan pidana umum, yakni kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu.

Menanggapi hal ini, Kuasa Hukum Novel Baswedan, Alghiffari Aqsa tak membantah asumsi yang dibangun Tim Pakar bahwa ada enam kasus yang kemungkinan menjadi latar belakang terjadinya penyerangan terhadap Novel. Namun, dengan asumsi yang dibangun tersebut Tim Pakar seharusnya turut menyebut kasus Buku Merah sebagai salah satu kasus yang kemungkinan melatari terjadinya teror.

"Bisa jadi memang ada keterkaitan dengan kasus itu, tetapi ada yang lupa. Ada tujuh itu. Ada satu lagi yaitu kasus Buku Merah," kata Alghiffari di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Dijelaskan, Novel memang bukan penyidik langsung dalam kasus tersebut. Namun, seminggu sebelum penyerangan dengan air keras yang dialaminya, Novel mengetahui akan ada penyerangan terhadap salah satu penyidik KPK. Bahkan, Novel sempat menghubungi teman-temannya di kepolisian, untuk mengamankan tim penyidik KPK tersebut.

"Akhirnya tidak sampai ada penyerangan, cuma laptopnya dicuri dan itu terkait kasus Buku Merah," kata Alghiffari.

Atas dasar itu, kata Alghiffari, terbuka kemungkinan teror terhadap Novel juga berkaitan dengan kasus Buku Merah. Namun, kasus itu tidak disebutkan oleh tim bentukan Kapolri.

"Makanya tetap ada keterkaitan menurut saya. Kalau mau memasukkan enam kasus, Buku Merah dimasukkan juga. Selain hilangnya laptop yang isinya berkas-berkas Buku Merah, kemudian sobekan Buku Merah, kenapa ini kemudian dihilangkan dari dugaan-dugaan (TPF) itu? Kalau mau fair ya ada tujuh, ada Buku Merah," tegas Alghiffari.

Kasus Buku Merah merupakan dugaan perusakan barang bukti terkait perkara bos CV Sumber Laut Perkasa, Basuki Hariman yang telah dihukum lantaran menyuap mantan Hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar.

Barang bukti yang dikenal dengan nama Buku Merah menjadi pembicaraan publik setelah sejumlah media yang tergabung dalam IndonesiaLeaks memuat hasil investigasi mereka. Investigasi itu menyebutkan, buku bersampul merah tersebut diduga berisi catatan aliran dana pengusaha Basuki Hariman kepada sejumlah pejabat negara.



Sumber: Suara Pembaruan