LBM Bantu Naikkan Status Kampung di Berau

LBM Bantu Naikkan Status Kampung di Berau
Para pembicara tengah memberikan masukan kepada para pemuka desa di Berau Kalimantan Timur dalam acara Lingkar Belajar Masyarakat di Hotel Makmur, Berau, Kalimantan Timur, Jumat (19/7/2019). ( Foto: istimewa / istimewa )
Irawati D Astuti / IDS Jumat, 19 Juli 2019 | 16:11 WIB

Berau, Beritasatu.com - Selama tiga hari sejak Rabu (17/7/2019) hingga Jumat (19/7/2019), sejumlah kampung di Berau, Kalimantan Timur, saling berbagi pengalaman, belajar dan membangun jaringan dalam kegiatan bernama Lingkar Belajar Masyarakat (LBM).

“Saya menemukan wajah-wajah ceria dari para peserta, yang menunjukkan desa-desa di Berau sudah berkembang,” ujar Bupati Berau, Muharram, dalam acara LBM di Hotel Makmur, Jumat (19/7/2019), dalam keterangan yang diterima Beritasatu.

Lontaran kebahagian tersebut bukanlah tanpa dasar. Dalam waktu tiga tahun saja, Muharram mengatakan, sudah terjadi kenaikan signifikan pada status kampung-kampung di Berau.

“Tahun 2018, sudah tidak ada lagi status kampung sangat tertinggal di Berau. Hanya tinggal kampung tertinggal saja. Saya targetkan pada 2019, status kampung tertinggal itu sudah hilang,” ujarnya.

Kenaikan status kampung memang membanggakan. Pasalnya, pada tahun 2016, sekitar 70% kampung di Berau masuk dalam kategori tertinggal dan sangat tertinggal. Kondisi yang memprihatinkan itu menggerakkan pemerintah kabupaten berbenah dalam hal tata kelola pemberdayaan masyarakat kampung.

Sejumlah upaya mulai dicetuskan pemerintah kabupaten (pemkab), dimulai dengan menerapkan pendampingan kampung Sigap (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan) Sejahtera hingga menggulirkan program Pejuang Sigap Sejahtera pada 2017. Pejuang Sigap ini lahir lantaran pemkab menyadari bahwa bergulirnya dana desa yang besar tanpa peningkatan kapasitas aparat pemerintahan kampung dan warganya tidak akan berhasil.

Atas kerja sama Universitas Gadjah Mada (UGM), Yayasan Dharma Bakti PT Berau Coal, dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang berafilisiasi dengan The Nature Conservancy, direkrut lah 99 anak muda Berau sebagai Pejuang Sigap dan 12 koordinator kecamatan. Mereka mendampingi kampung-kampung selama setahun dengan pendekatan program Sigap yang dikembangan YKAN sejak 2001 silam.

Pengakuan kemajuan kampung di Berau ini juga dibuktikan dengan kemenangan mereka dalam lomba desa se-Kalimantan Timur. Sejak 2016, desa terbaik se-Kalimantan Timur diwakili oleh Berau, mulai dari Kampung Tepian Buang, Kampung Maluang, hingga yang terakhir Kampung Batu Putih.

“Kampung Batu Putih tahun ini masuk dalam lima besar nasional lomba desa terbaik. Ini luar biasa. Kita mewakili desa di Indonesia bagian Timur,” tutur Muharram.

Ia menyadari bahwa kemajuan kampung-kampung di Berau akan mendukung kemajuan kecamatan yang muaranya adalah kemajuan kabupaten. Kemajuan Berau melalui program Sigap Sejahtera ini sudah pula diakui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

“Berau akan menjadi percontohan nasional,” ujar dia.

Kepala Dinas Pemberdaan Masyarakat dan Kampung Berau, Ilyas Natsir, membenarkan bahwa keberhasilan Berau menjadi contoh di Indonesia. Agar memperkuat kapasitas sumber daya manusia aparat kampung dan pejuang Sigap, maka Ilyas mengatakan, digelar lah LBM, yang sudah berlangsung di tahun ketiga ini. Peserta LBM juga hadir dari tenaga pendamping profesional desa, lembaga swadaya masyarakat dan pendamping dari Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal. Diperkirakan ada sekitar 500 orang peserta yang hadir selama tiga hari.

Manajer Program Senior YKAN untuk Kalimantan Timur, Niel Makinuddin, mengatakan bahwa kampung ibarat sel-sel tubuh manusia, dan kabupaten sebagai tubuhnya. “Bila sel-sel ini sehat, maka tubuh juga akan berfungsi optimal dan sehat,” ujar Niel.



Sumber: BeritaSatu.com