Rosminarti Berharap Segera Dapat Hunian Tetap

Rosminarti Berharap Segera Dapat Hunian Tetap
Rosminarti, salah seorang guru SDN Balaroa berdiri di depan ruang kelas yang dibangun pihak United Tractors, Jumat (19/7/2019). (Foto: SP/Rully Satriadi)
Rully Satriadi / RSAT Jumat, 19 Juli 2019 | 22:54 WIB

Palu, Beritasatu.com – Salah seorang guru SDN Balaroa, Rosminarti (40) berterima kasih, dan merasa senang karena kini dia dan para muridnya bisa menempati sekolah transisi yang dibangun perusahaan alat berat United Tractors (UT) Tbk.

“Anak-anak di sini (SDN Balaroa-red) juga gembira dan sudah tidak takut lagi masuk ke kelas,” ujar Rosminarti di sela-sela peresmian dan penyerahan 10 sekolah transisi dari UT kepada pemerintah setempat yang dipusatkan di SDN Balaroa, Jumat (19/7/2019).

Sepuluh sekolah yang diserahkan itu yakni SDN Balaroa, SDN lnpres Balaroa, SDN Petobo 1, SDN Petobo 2, SDN 4 Bamba, SDN 2 Sindue, SDN 21 Amal Sindue, TK PGRI 2 Amal Sindue, SMKN 8 Palu, dan TK & TB AI-Khairat.

Hadir dalam acara penyerahan tersebut Direktur UT Edhie Sarwono dan jajaran manajemen UT, Kepala Dinas Pendidikan Palu Ansyar Sutiadi, Kapolres Palu AKBP Mudjianto, Dandim 130 Donggala Kol Inf Agus Sasmita, Danrem 132 Tadulako Letkol Kav I Made Mahayudhiksa, 10 kepala sekolah, dan ratusan undangan lainnya.

SDN Balaroa yang dibangun di wilayah Manonda Nosarara, Kota Palu ini memiliki 6 ruang kelas, 1 ruang guru dan 3 MCK.

Rosminarti mengatakan sebelum sekolah ini dibangun para guru dan 190 muridnya belajar di tenda-tenda darurat. "Sekitar pertengahan Desember 2018, baru pindah ke sini," ujar Rosminarto yang juga wali kelas 4.

Rosminarti menyebutkan selalu memberi semangat kepada muridnya untuk tetap semangat belajar dan tidak takut lagi datang ke sekolah, karena dirinya dan keluarga juga menjadi salah satu korban gempa.

Menurut Rosmiarti, ketika gempa dan tusnami dahsyat terjadi September 2018 lalu, dia, suami dan dua anaknya sempat terkubur di dalam rumah selama 5 jam.

"Alhamdulillah kami dan keluarga masih dilindungi oleh Allah SWT, walau ada satu anak yang meninggal. Kami masih disayangi karena sekitar pukul 23.00 Wita datang dua pemuda yang menolong dan mengeluarkan dirinya, suami dan anaknya dari reruntuhan rumah. Namun sayang, satu anaknya tidak selamat karena tertimbun yang paling dalam," ujar Rosminarti sambil berlinang air mata mengingat peristiwa kelabu tersebut.

Rosminarti yang sudah 10 tahun mengajar di SDN Balaroa kini tinggal di sebuah rumah kontrakan. Karena rumahnya di bilangan Perumnas Balaroa tenggelam bersama ratusan rumah lainnya, dan tidak ada yang bisa diselamatkan.

Untuk itu dia berharap pemerintah setempat segera memberikan hunian tetap sementara seperti yang dijanjikan, karena dia dan guru lainnya yang juga menjadi korban pernah didata, namun hingga kini belum terealisasi," tuturnya.



Sumber: Suara Pembaruan