Pengamat: Perlunya Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemda

Pengamat: Perlunya Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemda
Pengamat penggiat sosial, Rusdi S Kamri. ( Foto: istimewa )
Hendro D Situmorang / CAH Senin, 22 Juli 2019 | 07:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Terjadinya konflik internal antara Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly versus Wali Kota Tangerang, Banten, Arief R Wismansyah menjadi contoh kecil betapa seringnya kebijakan pemerintah pusat tidak sinkron dengan kebijakan pemerintah daerah. Ribuan masalah serupa dengan kasus berbeda kemungkinan terjadi, namun tidak terekspos media massa.

Pengamat penggiat sosial, Rudi S Kamri mengatakan penyebabnya adalah tidak adanya komunikasi konstruktif yang dibangun antara pemerintah pusat dan pemda. Akibatnya, banyak kebijakan strategis pemerintah pusat atau kebijakan presiden tidak dijalankan sesuai dengan tujuan mulia yang diinginkan. Ujungnya, masyarakat luas yang dirugikan atas silang sengkarut yang terjadi.

Contoh lain adalah rencana besar Presiden Joko Widodo untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Reformasi perizinan dengan cara memangkas secara signifikan birokrasi perizinan di tingkat pusat, khususnya yang dilakukan di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada kenyataannya tidak semua pemda mengikuti langkah positif yang dilakukan pemerintah pusat. Akibatnya iklim investasi yang kondusif seperti harapan Presiden tidak kunjung terealisasi.

"Banyak hal yang menjadi biang keladi tidak sinkronnya kebijakan pemerintah pusat dan pemda. Salah satunya adalah belum terbentuknya etos kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) secara menyeluruh sehingga adagium, "kalau bisa dipersulit mengapa harus dimudahkan?” terus terpelihara," jelas dia dalam keterangannya di Jakarta.

Mindset koruptif seperti ini masih menjadi virus menjijikkan yang terjadi di berbagai daerah. Belum lagi ada kepentingan politik yang melatarbelakanginya. Bahkan kepala daerah dari kubu koalisi yang berbeda dengan koalisi pendukung Presiden terkadang ada kesengajaan untuk menggergaji kebijakan pemerintah pusat.

Dampak pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung juga bisa berpotensi menimbulkan langkah kebijakan yang sengaja dibuat berbeda dengan kebijakan pemerintah pusat. Tujuan mempersulit birokrasi perizinan di level daerah dalam hal ini adalah untuk kepentingan mengumpulkan modal untuk membiayai perhelatan kontestasi pilkada. Belum lagi adanya indikasi ribuan peraturan daerah (perda) yang tidak sinkron dengan peraturan pemerintah pusat. Intinya banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya ketidaksinkronan kebijakan pemerintah pusat dan pemda.

Rudi menilai seharusnya Kemdagri berkewajiban menjadi alat Presiden untuk memonitor agar kebijakannya dilaksanakan atau menjaga sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan pemda.

"Menurut saya seharusnya instansi ini bisa membantu tugas Presiden untuk melakukan monitoring dan sinkronisasi kebijakan pemerintah pusat dan pemda, tapi dengan sosok dan kapabilitas menteri yang ada sekarang kelihatannya jauh dari harapan untuk diharapkan mampu melakukan tugas strategis tersebut," ungkap dia.

Dengan kenyataan tersebut, ia berharap pada periode pemerintahan Presiden Jokowi lima tahun ke depan, dengan membentuk badan khusus atau lembaga setingkat kementerian negara yang bertugas melakukan monitoring dan pengawasan arah pembangunan nasional serta melakukan sinkronisasi kebijakan pemerintah pusat dan pemda. Terbentuknya lembaga ini akan memudahkan Presiden untuk melakukan pengawasan, monitoring dan evaluasi kebijakan yang strategis.

Sebetulnya dua tahun lalu tokoh nasional, Suhendra Hadikuntono pernah mengusulkan terbentuknya Badan Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah. Namun usulan yang baik tersebut sampai sekarang belum mendapatkan respons positif dari Presiden Jokowi.

"Saya berharap untuk periode jabatan 2019-2024, Presiden Jokowi berkenan merealisasikan terbentuknya lembaga ini. Kalau lembaga ini terbentuk, Presiden Jokowi akan mempunyai mata dan telinga untuk memastikan semua kebijakan Presiden dapat dijalankan sepenuhnya oleh kepala daerah," kata dia.

Rudi memandang sangat urgen pembentukan lembaga khusus yang membantu Presiden untuk memastikan kebijakannya dijalankan oleh aparatur di bawahnya dengan tepat sasaran agar dapat memberikan manfaat optimal bagi rakyat.



Sumber: Suara Pembaruan