Puluhan Atlet Nasional Terindikasi Pengikut Kelompok Radikal

Puluhan Atlet Nasional Terindikasi Pengikut Kelompok Radikal
Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan. ( Foto: NII Crisis Centre )
Yeremia Sukoyo / JAS Senin, 22 Juli 2019 | 07:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan menyinyalir saat ini banyak atlet berprestasi yang sudah direkrut kelompok radikal dan menyatakan diri ikut dalam kelompok tersebut.

Keyakinan itu didapatkan setelah menerima sejumlah laporan dari kalangan atlet maupun orangtuanya. Setelah dilakukan penelusuran, ternyata memang ditemukan indikasi adanya puluhan atlet yang telah menyatakan diri masuk ke dalam kelompok radikal.

"Kami pikir para atlet sudah disibukkan dengan banyaknya aktivitas latihan yang padat, bahkan peraturan juga sangat ketat, tetapi ternyata itu bukan jaminan bebas dari perekrutan kelompok radikal," kata Ken yang juga pendiri NII Crisis Center itu, Minggu (21/7/2019) di Jakarta.

Menurutnya, seorang atlet yang dibiayai negara dan diharapkan bisa menjadi kebanggaan, malah justru terpapar radikalisme yang secara ideologi anti terhadap pemerintah dengan menganggap pemerintah tagut dan kafir.

Dirinya pun menceritakan, dirinya dulu adalah seorang atlet pencak silat. Direkrut saat akan mengikuti pertandingan tingkat nasional di Jakarta, namun karena ingin silaturahmi dengan kawan kawan akhirnya direkrut kelompok radikal NII dan bergabung kurang selama tiga tahun.

Ken tidak menyalahkan sepenuhnya jika anak muda bergabung dalam kelompok radikal karena cara perekrutannya cukup profesional dan multitafsir. Menurutnya, anak muda memang semangatnya sedang luar biasa dan sedang mencari jati diri. Yang jadi masalah adalah jika bertemu dengan orang yang salah sehingga belajar jihad yang salah.

"Ketika kita tidak punya argumentasi yang kuat dalam berdebat maka di pastikan kita akan kalah dan mengikuti argumentasi yang menang, itu konsekuensinya," ujarnya.

Dikatakan, perekrutan kelompok radikal yang selama ini dikenal dengan cuci otak atau brainswash tidak selamanya benar. Mereka juga bukan dihipnotis, lantas tiba-tiba berubah. Akan tetapi polanya adalah hipnosis, melalui tatapan mata, pengkondisian bahwa semua mempunyai pendapat yang sama.

Lalu ada pemutusan komunikasi supaya jangan disampaikan kepada siapapun selain kelompoknya saja. Kemudian yang terakhir adalah indoktrinisasi atau pengulangan materi radikal secara terus-menerus yang sugestinya adalah hukum Allah yaitu Alquran.

Saat ini dirinya berharap pemerintah bisa segera turun tangan, terutama untuk membentengi kalangan muda khususnya kalangan atlet. Bila dibiarkan maka kondisi ini akan terus menyebar dan akan sangat membahayakan.

"Para atlet yang sudah terekrut mungkin belum diajarkan untuk aksi bom, sebab baru teradikalisasi secara pemikiran. Tetapi kelompok radikal mengharapkan mereka akan menjadi virus di masyarakat sekitar," ungkap Ken.

Ken berharap ke depan, para guru olahraga dan pelatih klub agar diberikan diklat kebangsaan tentang kepemimpinan Pancasila yang diharapkan menjadi training of trainner (TOT) agar bisa disampaikan lagi di lingkungan mereka masing-masing.

Dirinya menegaskan, tidak ada jaminan orang terbebas dari bahaya radikalisme sekalipun dia sudah tahu bahwa hal itu sesat dan menyesatkan. Semua orang sangat berpotensi direkrut kelompok radikal.

Ken menjelaskan bahwa persoalan ini adalah tanggung jawab semua warga negara Indonesia. Bela negara bukan hanya tanggung jawab seorang aparat, namun menjadi tanggung jawab dan tugas semua elemen masyarakat.



Sumber: BeritaSatu.com