Walhi: Eksploitasi SDA Penyebab Banjir di Sulteng

Walhi: Eksploitasi SDA Penyebab Banjir di Sulteng
Ilustrasi banjir bandang ( Foto: Antara/Hari )
John Lory / JAS Senin, 22 Juli 2019 | 08:23 WIB

Palu, Beritasatu.com - Wahana Lingkungan Hidup ((Walhi) Sulawesi Tengah (Sulteng) mencatat, penyebab utama terjadinya banjir bandang di sejumlah wilayah Sulteng disebabkan adanya kegiatan eksploitasi sumber daya alam (SDA).

“Banjir yang terjadi di dataran Toili Kabupaten Banggai adalah imbas dari menurunnya daya dukung lingkungan akibat masifnya pemberian izin eksploitasi sumber daya alam di Sulteng, salah satunya di Banggai,” kata Manager Kampanye Walhi Sulteng, Stevandi, Minggu (21/7/2019).

Banjir bandang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari lajunya pembukaan lahan untuk aktivitas perkebunan dan pertambangan.

Dia menyebut, saat ini luasan perkebunan sawit di Sulteng telah mencapai 591.000 hektare dan pertambangan telah mencapai 2 juta hektare dari total luas provinsi itu.

Dia juga mengatakan, data Komunitas Muda Peduli Hutan (Komiu) Sulteng, saat ini deforestasi hutan di Sulteng mencapai 1.300 hektare per bulan. Khusus Kabupaten Bangai, deforestasi hutan mencapai 88.740,54 hektare sejak tahun 2000 hingga 2018.

“Alhasil laju deforestasi tersebut telah melahirkan berbagai persoalan salah satunya banjir yang terjadi di Toili,” ujar Stevandi.

Diketahui, curah hujan yang tinggi pada Senin (15/7/2019) lalu, mengakibatkan banjir bandang di wilayah dataran Toili Kabupaten Banggai.

Banjir menggenangi 10 desa di tiga kecamatan mengakibatkan sebanyak 1.450 keluarga mengungsi ke dataran tinggi untuk menyelamatkan diri.

Selain menggenangi ratusan rumah warga, banjir juga merusak dua jembatan di Kecamatan Moilong, dan sekitar 148 hektare lahan sawah warga terendam banjir dan terancam gagal panen.



Sumber: Suara Pembaruan