Erupsi Bromo Mereda, Wisatawan Asing Mulai Berdatangan

Erupsi Bromo Mereda, Wisatawan Asing Mulai Berdatangan
Kawasan Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur. (Foto: Antara)
Aries Sudiono / FMB Senin, 22 Juli 2019 | 10:14 WIB

Probolinggo, Beritasatu.com - Fenomena banjir lahar dingin di lautan pasir Gunung Bromo (2.329 mdpl) pascaerupsi Jumat (19/7/2019) sore hingga Sabtu (20/7/2019) bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan warga Suku Tengger dan wisatawan. Setiap kali turun hujan, lahar dingin senantiasa terjadi.

Rekaman video pendek erupsi Gunung Bromo dan kondisi lautan pasir (kaldera) yang dialiri lahar dingin, sempat membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo kebanjiran telepon bernada panik dari keluarga wisatawan dari luar Provinsi Jatim guna menanyakan kondisi tersebut.

“Wisatawan domestik, tidak perlu cemas atau khawatir dengan erupsi Bromo dan banjir lahar dinginnya. Yang penting ikuti arahan petugas BPDB dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebagai pengelola kawasan wisata Bromo dan sekitarnya. Kami berpedoman dari rekomendasi Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG). Jangan mendekat dari radius satu kilometer dari titik kawah,” ujar Kepala BPBD Probolinggo Anggit Hermanuadi yang dikonfirmasi, Minggu (21/7/2019).

Anggit mengungkapkan, bahwa fenomena aliran air di lautan pasir Bromo merupakan sesuatu yang sudah biasa terjadi. Karenanya, para wisatawan agar tetap tenang sambil menunggu beberapa saat hingga air surut dan meresap ke dalam lautan pasir kembali. Diakui, pasca video pendek yang diambil dari kawasan Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo oleh seseorang kemudian diunggah di media sosial (medsos), adalah fenomena yang biasa.

Sebelumnya Kepala PVMBG Kasbani melalui Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Hendra Gunawan mengatakan, dalam erupsi kali ini tercatat kejadian aliran air disertai material batuan berukuran abu hingga pasir. Namun hal ini merupakan fenomena alam biasa dan tidak terkait langsung dengan aktivitas erupsi. Banjir lahar dingin itu diakibatkan karena hujan turun di sekitar kaldera Tengger dan puncak Bromo, yang kebetulan erupsi juga terjadi sehingga menghasilkan abu vulkanik. Morfologi kaldera Tengger merupakan topografi rendah yang dikelilingi perbukitan sehingga jika terjadi hujan, aliran air akan bergerak ke arah dasar kaldera.

“Endapan batuan di sekitar perbukitan kaldera Tengger dan puncak G Bromo umumnya terdiri atas produk jatuhan yang bersifat lepas sehingga akan mudah tergerus air hujan,” ujar Hendra Gunawan sambil menambahkan, G Bromo erupsi, Jumat pukul 16.37 WIB. Saat erupsi tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 37 milimeter (mm) dan durasi sekitar 7 menit 14 detik.

Sempat Panik
Anggit Hermanuadi mengakui dampak dari viralnya video pendek di media sosial (medsos) yang diambil wisatawan dari kaldera itu sempat membuat panik wisatawan yang bermalam di hotel dan homestay di sekitar bibir kaldera di Desa Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. “Sempat ada kepanikan dari wisatawan dan merembet ke warga setempat ketika erupsi terjadi. Syukur keesokan harinya kepanikan itu mereda," kata dia.

Anggit menambahkan, G Bromo pada Maret 2019 yang lalu juga erupsi dan menyemburkan hujan abu hingga ke wilayah Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang. Hanya saja sesuai rekomendasi PVMBG, tidak ada peningkatan status dari Level II atau Waspada. Ketika dihubungi lagi, Senin (22/7/2019) tadi pagi, disebutkan Anggit, cuaca di puncak Bromo semakin eksotik karena cerah, sedikit berawan. Aktivitas magma terus menurun. “Bromo relatif aman dikunjungi dari radius satu kilometer,” ujarnya sambil menambahkan, arus wisatawan mancanegara mulai Minggu kemarin mulai berdatangan untuk melihat kondisi terakhir  Bromo.



Sumber: Suara Pembaruan