21 Tahun Hilang di Saudi, TKW Turini Kini Pulang ke Indonesia

21 Tahun Hilang di Saudi, TKW Turini Kini Pulang ke Indonesia
Turini (kiri) saat menjalani penerbangan dari Arab Saudi ke Indonesia. ( Foto: Istimewa )
Jaja Suteja / JAS Senin, 22 Juli 2019 | 10:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Turini binti Mashari Tarsina, WNI yang hilang dan overstay selama 21 tahun di Arab Saudi, Minggu (21/7/2019), pulang ke Indonesia. Turini dijadwalkan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (22/7/2019) pukul 02.30 dini hari.

Didampingi staf KBRI Muhammad al-Qarni, wanita asal Kedawung, Cirebon ini dipulangkan ke Indonesia bersama dengan 8 WNI kurang beruntung yang sudah menyelesaikan proses exit permit (izin keluar) di Imigrasi Saudi. Mereka diberangkatkan dari Ruhama (Rumah Harapan Mandiri) KBRI Riyadh.

KBRI Riyadh lebih memilih idiom “WNI belum beruntung” daripada label “WNI bermasalah” dengan alasan kemanusiaan.

Acara perpisahan di Ruhama KBRI Riyadh berlangsung haru. Ruhama adalah tempat menampung para WNI yang sedang menghadapi permasalahan ketenagakerjaan dan juga permasalahan hukum di Arab Saudi sebelum dipulangkan oleh KBRI ke Indonesia.

Duta Besar RI untuk Saudi, Agus Maftuh Abegebriel menjelaskan bahwa saat ini rumah singgah KBRI Riyadh dihuni oleh 170 WNI yang menghadapi berbagai masalah di Saudi. Mayoritas mereka adalah disebabkan masuk ke Saudi dengan visa kunjungan yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk bekerja.

"Faktor inilah yang menyebabkan mereka tidak terdata di KBRI, sehingga KBRI kesulitan untuk memberikan perlindungan dan monitor keberadaan mereka. Dan seringkali KBRI Riyadh mengetahui data mereka justru ketika para pekerja migran tersebut mengalami masalah," kata Agus.

Banjir WNI dengan dokumen nonprosedural ini merupakan pemandangan sehari-hari dan justru terjadi setelah adanya moratorium pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Saudi Arabia.

"Saya berharap ada extraordinary effort (langkah luar biasa) untuk menertibkan pemberangkatan tenaga kerja Indonesia ke Arab Saudi. Meski demikian, KBRI dalam melayani tidak pernah melakukan diskriminasi dan melayani semua WNI yang datang dengan visa apapun," tutur Agus Maftuh menambahkan.

Terkait dengan denda overstay para WNI yang belum beruntung ini, KBRI Riyadh berusaha melakukan komunikasi dengan Kerajaan Arab Saudi untuk membebankan ke para majikan. Pada sisi lain Saudi juga membantu lewat Kantor Dinas Sosial Pemerintah Saudi Arabia.

Agus Maftuh menegaskan bahwa KBRI Riyadh akan selalu konsisten menghadirkan Negara untuk membantu para WNI di Saudi dan akan selalu melakukan terobosan untuk memecahkan segala kebuntuan dalam diplomasi kemanusiaan ini.

Sebagaimana diberitakan, Kedutaan Besar RI di Riyadh berhasil menemukan dan menyelamatkan Turini yang berangkat ke Arab Saudi pada 24 Oktober 1998.

Di Saudi, Turini bekerja di keluarga Aun Niyaf Aun Alotaibi, kata duta besar, seraya menambahkan laporan mengenai Turini muncul sejak pertengahan tahun 2013, namun karena data yang tidak lengkap mengenai dirinya menyulitkan KBRI Riyadh melakukan pencarian.

“Titik balik pencarian Turini terjadi ada Maret 2019. KBRI saat itu menerima informasi dari anak Turini di Indonesia bahwa ibunya baru saja menghubunginya melalui nomor telepon warga negara Filipina,” kata Duta Besar Indonesia Agus Maftuh.

Informasi berharga dari anak Turini tersebut ditindaklanjuti oleh KBRI Riyadh yang lalu bergerak cepat menghubungi nomor tersebut, dan kemudian diketahui bahwa WN Filipina itu bekerja di rumah majikan yang masih bersaudara dengan majikan Turini.

Melalui komunikasi tersebut, KBRI berhasil mendapatkan kontak majikan Turini, yang diketahui bernama Feihan Mamduh Alotaibi, menantu dari majikan lama, Aun Niyaf Aun Alotaibi yang sudah meninggal 10 tahun lalu.

Duta Besar Agus Maftuh menjelaskan bahwa selama bekerja dalam kurun waktu 21 tahun, Turini belum pernah menerima gaji, dan tidak memiliki akses komunikasi dengan keluarga di Indonesia, kemudian KBRI melakukan negosiasi dengan majikan.

Dengan bantuan Kantor Polisi Dawadmi pada 2 April 2019, tim KBRI Riyadh dapat menemui Turini dan bernegosiasi langsung dengan Feihan Mamduh Al-Otaibi di rumahnya yang terletak di kampung sebuah pedalaman Saudi, sekitar 387 kilometer dari Riyadh.

Agus Maftuh menambahkan bahwa proses negosiasi dengan majikan berlangsung cukup alot.

“Namun dengan pendekatan ala santri, taqdimul adab (mengedepankan pendekatan sosial antropologis), alhamdulillah majikan luluh hatinya dan bersedia membayarkan hak-hak gaji Turini sebesar 150.000,- Riyal (setara 550 juta rupiah).

Selama “hilang” itu, Turini juga dianggap melewati masa berlaku izin tinggal atau overstay dan dikenai denda.

Denda tersebut akhirnya dibebankan kepada kafil atau majikan dan harus menanggung tiket kepulangan Turini ke tanah air pada Ahad, 21 Juli 2019 didampingi oleh staf KBRI berwarga negara Saudi, Muhammad al-Qarni, yang terlibat langsung dalam penyelamatan Turini.

Duta Besar Agus Maftuh menegaskan bahwa KBRI Riyadh akan selalu menghadirkan negara di tengah-tengah para WNI di Saudi.

“KBRI harus melayani dengan hati semua WNI yang ada di Saudi,” ujarnya.

Sebelumnya, KBRI berhasil menyelamatkan Eti binti Tayib dari hukuman mati dengan tebusan Rp 15 miliar.



Sumber: Beritasatu.com/PR