Irigasi Kering, Petani di Jambi Tunda Tanam Tanam Padi

Irigasi Kering, Petani di Jambi Tunda Tanam Tanam Padi
Salah satu warga di Kabupaten Gunung Kidul rela berjalan lebih dari 3 kilometer untuk mendapatkan air bersih untuk keperluan memasak dan memberikan air kepada hewan ternak. ( Foto: Antara Foto / Sutarmi )
Radesman Saragih / JEM Senin, 22 Juli 2019 | 15:13 WIB

Jambi, Beritsatu.com - Para petani di Kabupaten Kerinci dan Sarolangun, Provinsi Jambi terpaksa menunda penanaman padi pada musim tanam Juli-September ini, akibat musim kemarau panjang yang berdampak pada mengeringnya sawah-sawah mereka.

Menurut Kadis Tanaman Pangan, Hultikultura dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun, Sakwan, sekitar 1.350 ha sawah di Sarolangun tak bisa ditanami karena kekeringan. Luas sawah itu mencapai 30% dari total 4.500 ha areal persawahan di daerah itu.
Para petani di Sarolangun, katanya, menunda musim tanam karena irigasi tidak berfungsi lagi. Sumber air untuk mengairi sekitar 30% sawah di Sarolangun tidak ada lagi karena musim kemarau membuat sungai-sungai ikut mengering.

“Penundaan musim tanam di Sarolangun kami perkirakan terjadi hingga musim hujan September-Oktober nanti,” kata Sakwan kepada Suara Pembaruan, Senin (22/7/2019).

Sakwan mengatakan, pihaknya sudah meminta penyuluh pertanian lapangan (PPL) melakukan penyuluhan ke para petani yang sawahnya kekeringan agar tak memaksakan diri menanam padi demi menghindari kerugian.

“Petani diarahkan agar menunda penanaman padi hingga musim hujan tiba agar tanaman padi mereka tidak sampai puso akibat kekeringan,” kata Sakwan.

Dijelaskan, pihaknya juga terus memantau informasi mengenai kondisi cuaca melalui BMKG Jambi. “Kalai BMKG menyatakan masih kemarau hingga akhir Agustus, maka musim tanam ditunda hingga akhir Agustus,” ujarnya.

Para petani di Kerinci juga menunda menanam padi karena dampak musim kemarau sawah-sawah mereka kering. Areal persawahan kekeringan itu antara lain di Desa Pnawar, Kecamatan Sitinjaulaut mencapai 50 ha.

"Mestinya kami sudah melakukan musim tanam saat ini. Tetapi karena irigasi rusak, sumber air mengairi sawah tidak ada, sawah kami kering. Kami baru melakukan penanaman padi jika hujan sudah turun,” kataSuryo (50), petani Desa Penawar, Sitinjaulaut, Kerinci, Minggu (21/7/2019).

Kabid Tanaman Pangan, Dinas Tanaman Pengan dan Holtikutura Kabupaten Kerinci, Khamim mengatakan, para petani diharapkan tidak memaksakan diri menanam padi jika irigasi masih rusak dan musim kemarau berlanjut.



Sumber: Suara Pembaruan