Ini Sosok 3 Jenderal Polisi Capim KPK yang Patuh Lapor LHKPN

Ini Sosok 3 Jenderal Polisi Capim KPK yang Patuh Lapor LHKPN
Ilustrasi Mabes Polri ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Rabu, 24 Juli 2019 | 11:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebanyak sembilan jenderal polisi dinyatakan lolos seleksi tahap dua calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun, dari sembilan perwira tinggi tersebut, hanya tiga orang yang sudah melaporkan Laporan Harta dan Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) terakhir, yakni untuk periode 2018.

Mereka adalah Irjen Dharma Pongrekun, Irjen Antam Novambar, dan Irjen Firli Bahuri. Sebenarnya ada satu jenderal lagi yang patuh melaporkan kekayaannya, yakni Brigjen Darmawan Sutawijaya. Darmawan telah melaporkan kekayaannya sejak Januari 2019. Namun, jenderal bintang satu ini justru menjadi satu-satunya calon dari polisi aktif yang gagal saat uji kompetensi.

Berikut profil tiga jenderal Polri yang lolos seleksi capim KPK dan telah menyampaikan LHKPN:

1. Irjen Firli Bahuri

Saat ini Irjen Firli menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Selatan (Sumsel). Dia telah melaporkan harta dan kekayaannya sejak Maret 2019. Total kekayaannya mencapai Rp 18,2 miliar. Sebelum menjabat Kapolda Sumsel, Firli pernah menjadi Deputi Penindakan KPK.

Dalam pemberantasan korupsi di Indonesia, Firli pernah turut andil dalam mengungkapkan beberapa kasus, antara lain kasus mafia pajak dengan tersangka Gayus Tambunan. Saat itu Irjen Firli masih berpangkat AKBP dan tergabung dalam tim independen Polri.

Sepak terjang Firli dalam dunia pemerintahan pun terbilang cukup panjang. Sosok jenderal bintang satu Polri ini merupakan lulusan Akpol 1990. Kemudian, dia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) 1997 dan Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) pada 2004.

Pada 2001, pria kelahiran 7 November 1963 ini menjabat Kapolres Persiapan Lampung Timur. Empat tahun kemudian karirnya terus berlanjut seiring dengan ditariknya dia ke Polda Metro Jaya untuk menjadi Kasat III Ditreskrimum pada 2005-2006. Kinerja yang baik membuat Firli dipercaya menjadi Wakapolres Metro Jakarta Pusat pada 2009. Belum genap satu tahun menjabat, Firli akhirnya didapuk menjadi Asisten Sekretaris Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Setelah satu tahun, tepatnya 2011, Firli memutuskan keluar dari Istana dan kembali ke dunia kepolisian. Posisi yang diembannya saat itu adalah Direskrimsus Polda Jawa Tengah. Selanjutnya, pada 2012, Firli diminta untuk menjadi ajudan Wakil Pesiden Boediono.

2. Irjen Antam Novambar

Irjen Antam yang kini menjabat Wakil Kepala Bareskrim Polri tercatat sudah melaporkan LHKPN pada Juli 2019. Total kekayaannya sebesar Rp 6,6 miliar. Antam merupakan lulusan Akpol 1985. Berkarier 33 tahun di Polri, Antam sudah banyak makan asam garam di bidang reserse.

Dia pernah menjabat sebagai Dirkrimum Polda Maluku pada 2007. Setelah lama bertugas di Indonesia timur, dia langsung dipercaya menjadi penyidik di Diretktorat Kriminal Khusus Bareskrim. Karier cemerlang mengantar Antam menjadi Dirkrimum Polda Bali hingga akhirnya ia bertugas di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Berkat prestasinya, ia langsung mendapat pangkat jenderal di Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri hingga ditunjuk sebagai Wakabaraskrim dengan job bintang dua. Total, ia sudah tiga tahun mengemban jabatan itu.

Pada 2017, Antam memperoleh penghagaan Bintang Bhayangkara Pratama dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Di luar tugasnya, Antam juga dikenal dengan sosok yang sederhana. Sebab, tidak seperti jenderal bintang dua pada umumnya yang kerap menggunakan mobil dinas dan pengawalan ketat, Antam justru sering menggunakan motor vespa matik, sehingga banyak orang tak mengenalnya.

3. Irjen Dharma Pongrekun

Irjen Dharma yang kini menjabat Kepala Biro Perencanaan dan Administrasi Bareskrim Polri, melaporkan LHKPN pada Mei 2019. Total kekayaannya Rp 9,7 miliar. Dharma adalah seorang perwira tinggi Polri yang sejak 25 Mei 2018 mengemban amanat sebagai Deputi bidang Identifikasi dan Deteksi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Kariernya didominasi di bidang reserse, seperti menjadi Wadirtipidum, Dirtipidnarkoba Bareskrim, Karorenmin Bareskrim, hingga mendapat job bintang dua di Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Dharma pernah menjabat Wakil Direskrimum Polda Metro Jaya sejak 2008 hingga 2011.

Saat itu dia sempat dituduh terlibat membantu artis Marcela Zalianty yang berstatus tahanan, keluar dari penjara pada 2009. Diduga, kasus ini yang kemudian membuat Dharma dimutasi. Namun, Dharma membantah mutasinya disebabkan tuduhan tersebut.



Sumber: BeritaSatu.com