SFO Hentikan Investigasi Rolls-Royce, KPK Pastikan Terus Usut Kasus Garuda

SFO Hentikan Investigasi Rolls-Royce, KPK Pastikan Terus Usut Kasus Garuda
Emirsyah Satar. ( Foto: Antara / Wahyu Putro A )
Fana Suparman / WM Rabu, 24 Juli 2019 | 12:51 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan terus mengusut kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero) periode 2004-2015 yang menjerat mantan Dirut PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Group sekaligus Beneficial Owner Connaught International Pte.ltd, Soetikno Soedarjo sebagai tersangka.

Meskipun, Lembaga Antikorupsi Inggris, Serious Fraud Office (SFO) memutuskan tak melanjutkan investigasi kasus suap Rolls-Royce terhadap pejabat di sejumlah negara termasuk Indonesia lantaran dinilai tak cukup bukti untuk menuntut perorangan dan tidak lagi menyangkut kepentingan masyarakat.

Jubir KPK, Febri Diansyah menyatakan, sejak awal menangani kasus suap Garuda, pihaknya telah berkoordinasi secara intensif dengan SFO. Ditekankan Febri, putusan SFO menghentikan investigasi kasus Rolls-Royce tak berpengaruh pada kerja KPK mengusut tuntas kasus suap Garuda.

"KPK sudah berkoordinasi secara intens dengan SFO sejak awal dalam penanganan perkara ini. Penghentian tersebut tidak berpengaruh pada penanganan perkara yang sekarang sedang berjalan di KPK," kata Febri saat dikonfirmasi, Rabu (24/7/2019).

Febri menyatakan, penyidikan kasus suap Garuda akan terus berjalan. Tim penyidik KPK terus memeriksa sejumlah saksi dan kedua tersangka untuk segera menuntaskan kasus ini dan melimpahkannya ke persidangan.

"Penyidikan tetap berjalan. Bahkan minggu depan direncanakan pemeriksaan tersangka dan saksi lainnya," katanya.
Febri menjelaskan, SFO menghentikan investigasi terkait individu-individu di perusahaan Rolls-Royce. Sementara untuk perkara pokoknya sudah diproses, yakni pertanggungjawaban korporasi Rolls-Royce. Diketahui, perusahaan manufaktur terutama mobil dan mesin pesawat asal Inggris itu telah membayar denda sebesar £497,25 juta atas perilaku korup yang mencakup tiga dekade, tujuh yurisdiksi dan tiga bisnis.

"Korporasi Rolls Royce sudah mengaku bersalah dan setuju membayar denda sesuai dengan proses hukum yang berlaku di sana," katanya.

Dengan demikian, tegas Febri, putusan SFO tidak memiliki konsekuensi yuridis apapun terkait langkah KPK mengusut kasus suap Garuda yang menjerat Emirsyah dan Soetikno.

"Sehingga tidak ada konsekuensi yuridis terhadap kasus yg ditangani KPK. Terkait dengan bagaimana sikap yang diambil SFO, tentu hal tersebut berada di luar yurisdiksi KPK dan merupakan kewenangan SFO sepenuhnya," katanya.

Diketahui, KPK menetapkan Emirsyah Satar dan Soetikno sebagai tersangka pada 16 Januari 2017. Namun hingga saat ini, KPK belum juga merampungkan penyidikan kasus dugaan suap di PT Garuda yang menjerat keduanya. Bahkan, Emirsyah dan Soetikno hingga kini belum ditahan KPK.

Dalam kasus ini, KPK menyangka Emirsyah Satar telah menerima uang sebesar US$ 2 juta dan dalam bentuk barang senilai US$ 2 juta dari Rolls-Royce melalui pendiri PT MRA Group Soetikno Soedarjo dalam kapasitasnya sebagai Beneficial Owner Connaught International Pte.ltd. Suap itu diduga terjadi selama Emirsyah menjabat sebagai Dirut PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014.



Sumber: Suara Pembaruan