Menkes: Penjualan Produk Obat Nasional Capai Rp 59,5 Triliun

Menkes: Penjualan Produk Obat Nasional Capai Rp 59,5 Triliun
Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek saat meresmikan beroperasi PT Evergen Resources di Kaliwungu, Kendal, Kamis, 25 Juli 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Stefi Thenu )
Stefi Thenu / JAS Kamis, 25 Juli 2019 | 13:45 WIB

Kendal, Beritasatu.com – Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek mengungkapkan, penjualan obat-obatan produksi dalam negeri dalam kurun waktu tiga tahun terakhir meningkat tajam. Secara kumulatif, hingga 2019 mencapai Rp 59,5 triliun.

‘’Kita sangat bangga, karena produksi obat-obatan anak bangsa sendiri dapat mengurangi ketergantungan kita terhadap produk obat impor,’’ ujar Nila saat meresmikan industri bioteknologi PT Evergen Resources, di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, Kamis (25/7/2019).

Nila Moeloek mengatakan, pabrik bahan baku kosmetik dan suplemen kesehatan ini menjadi bagian dari industri bioteknologi di Tanah Air. Proses produksinya dengan mengultivasi algae (ganggang hijau) yang kaya dengan antioksidan.

Evergen Resources memproduksi astaxanthin. Dikenal sebagai pigmen merah, astaxanthin merupakan salah satu karotenoid yang memiliki kemampuan alami untuk bertahan melawan efek negatif akibat radikal bebas atau oksigen aktif.

"Selama ini astaxanthin kita impor dari sejumlah negara. Dengan beroperasinya Evergen ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan kita terhadap impor. Kalau impor terus, suatu saat kita tak lagi bisa membeli, karena negara penghasil akan menjual ke negara lain yang mampu membeli lebih mahal,’’ ujarnya.

CEO Evergen Resources Siswanto Harjanto mengatakan, pabriknya memroduksi astaxanthin dari mikroalga. Mikroalga adalah alga berukuran mikro yang biasa dijumpai di air tawar dan air laut.

"Sebelum beroperasi, kami melakukan riset dan trial and error sejak tahun 2015. Kini, untuk tahap awal kami mampu memproduksi 500 kg per bulan bahan baku dalam bentuk bubuk dan minyak untuk kosmetik dan suplemen kesehatan,’’ ujar Siswanto.

Menurut Siswanto, pabriknya menjadi yang pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Dengan nama produk Astalux, pihaknya siap bersaing di pasar global dengan industri sejenis dari Jepang, Israel, Tiongkok, dan Islandia.



Sumber: Suara Pembaruan