Kasus Mafia Lahan di Jambi, Petani Ungkap Penipuan Kelompok SMB

Kasus Mafia Lahan di Jambi, Petani Ungkap Penipuan Kelompok SMB
Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan (kedua kanan), Gubernur Jambi Fachrori Umar (ketiga kanan), Kapolda Irjen Pol Muchlis (tengah), dan petugas terkait memeriksa barang bukti saat rilis kasus tindak pidana penghadangan, perusakan, dan penganiayaan di Mapolda Jambi, Jumat (19/7/2019). Polda Jambi menetapkan 20 tersangka dari kelompok Serikat Mandiri Batanghari (SMB) pimpinan Muslim dalam kasus tindak pidana penghadangan, perusakan dan penganiayaan terhadap tim Satgas Pencegahan Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) Jambi saat bertugas di wilayah konsesi PT Wirakarya Sakti (WKS), Tanjungjabung Barat, Jambi pada Kamis (18/7/2019) sore serta mengamankan puluhan senjata api rakitan dan senjata tajam. ( Foto: ANTARA FOTO / Wahdi Septiawan )
Radesman Saragih / JEM Kamis, 25 Juli 2019 | 14:31 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Para petani Kecamatan Rimbobujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi yang tertipu kelompok mafia lahan Serikat Mandiri Batanghari (SMB) mengadukan Ketua SMB, Muslim ke Polda Jambi. Pengaduan petani korban kelompok mafia lahan SMB tersebut diwakili seorang petani Rimbobujang, Sobirin (50).

Kedatangan Sobirin diterima Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jambi Kombes Pol M Edi Faryadi, Rabu (24/7/2019). Sobirin didampingi Kabid Penanganan Konflik Dinas Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jambi, Sigit Eko Yuwono.

Menurut Sobirin, para petani di Rimbobujang, Tebo banyak yang tertipu dalam pembelian lahan yang diduga dilakukan Ketua SMB Muslim yang kini telah dibekuk dan menjadi tersangka di Polda Jambi. Muslim menanjikan petani mendapatkan lahan dengan membayar sejumlah uang. Tetapi janji tersebut sering tidak ditepati.

“Saya sendiri sebagai salah satu korban penipuan dijanjikan mendapatkan 3,5 ha lahan dengan membayar uang Rp 10 juta. Namun saya hanya mendapatkan lahan 1,5 ha tanpa sertifikat dan kwitansi,” kata Sobirin.

Menurut Sobirin, banyak petani korban kelompok SMB pimpinan Muslim tidak berani melaporkan kasus penipuan yang mereka alami ke pihak keamanan. Hal tersebut disebabkan rasa takut petani terhadap Muslim yang diduga sering mengitimidasi petani.

“Saya memberanikan diri melaporkan kasus penipuan yang dilakukan kelompok Muslim karena sudah banyak petani Tebo yang dirugikan. Kami juga meminta perlindungan aparat keamanan,” katanya.

Menanggapi pengaduan Sobirin, Kombes Edi Faryadi mengatakan, pihaknya meminta para petani korban kelompok SMB membuat pengaduan resmi ke polisi setempat. Para petani korban penipuan SMB juga bisa melapor dan datang langsung ke Posko Pengaduan Korban SMB di Kantor Dinas Kesatuan dan Perlindungan Masyarakat Kesbanglinas Provinsi Jambi.

“Kami akan menjamin keamanan para korban kelompok SMB. Jaminan keamanan tersebut tidak hanya diberikan ketika melapor ke Jambi tetapi juga di daerah masing-masing,” katanya.

Mengenai hasil pemeriksaan terhadap Muslim, menurut Edi Faryadi, bukti-bukti mengenai tindak kriminal dan penipuan yang dilakukan Muslim dan para anggotanya masih terus dikumpulkan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, katanya, Muslim menjadi otak seluruh tindak kriminal dan penipuan jual-beli lahan yang dilakukan kelompok SMB.

“Bukti-bukti yang menguatkan Muslim menjadi otak tindak kriminal dan penipuan kelompok SMB terus bertambah. Petugas sudah menyita sebanyak 22 unit senjata api rakitan dari kelompok SMB. Kemudian korban penipuan kelompok SMB yang mengadu ke polisi juga terus bertambah,”katanya.

SAD Terjaring
Sementara itu, sekitar 75 orang warga Suku Anak Dalam (SAD) asal Desa Muarakilis, Kecamatan Tebotengah, Kabupaten Tebo yang sempat bergabung dengan kelompok mafia lahan bersenjata SMB, terjaring ketika Patroli Gabungan Polres Batanghari melakukan penyisiran di lokasi permukiman liar yang dibangun SMB di batas Batanghari-Tebo.

“Setelah warga SAD tersebut diserahkan Polres Batanghari ke Polres Tebo, kami langsung mengembalikan warga SAD tersebut ke pemerintah desa Tengahilir, Tebo. Warga SAD tersebut kami minta dikemalikan ke komunitas mereka di kawasan hutan Desa Muarakilis, Tebo,” kata Wakolres Tebo Kompol Mamit Suargi di Tebo, Rabu.

Sementara Kepala Dinas Sosial dan Pencatatan Sipil Provinsi Jambi, Arief Munandar mengatakan, pihaknya siap memulangkan para anggota SMB yang berasal dari luar Jambi. Anggota SMB tersebut masih banyak di lokasi-lokasi pembukaan lahan dan permukiman yang dibangun SMB di beberapa kabupaten.

“Kami siap memulangkan anggota SMB yang berasal dari luar Jambi ke kampung halaman mereka. Saat ini para korban SMB tersebut tidak lagi memiliki rumah dan lahan. Namun pemulangan korban SMB asal luar Jambi tersebut belum bisa dilakukan karena data-data mereka belum terkumpul semuanya,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan