Program Peningkatan SDM Harus Ditunjang Ketahanan Pangan

Program Peningkatan SDM Harus Ditunjang Ketahanan Pangan
Peneliti utama dalam bidang Sosial Ekonomi Pertanian, Puslitbang Kementan Ahmad Suryana dalam orasinya di Aula Puslitbang Bogor, Jumat (26/7/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Vento Saudale )
Vento Saudale / JAS Jumat, 26 Juli 2019 | 20:52 WIB

Bogor, Beritasatu.com – Peningkatan kualitas penduduk merupakan ukuran dari keberhasilan pembangunan, terutama untuk mengetahui tingkat kemajuan suatu masyarakat atau bangsa. Keberhasilan pembangunan sangat tergantung kepada keberhasilan pemerintah dalam mempersiapkan ketahanan pangan.

Hal itu dipaparkan, dalam orasi purna tugas Ahmad Suryana sebagai peneliti utama dalam bidang Sosial Ekonomi Pertanian, Puslitbang Kementan di Bogor, Jumat (26/7/2019). Ia melihat, pencapaian ketahanan pangan di Indonesia telah mengalami perbaikan berarti. Hal ini tercermin dari menurunnya wilayah dengan prioritas 1 dan 2 atau kategori rawan pangan.

“Perbaikan ini terutama dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah untuk menjaga sisi ketersediaan pangan. Artinya bagaimana mungkin Indonesia mau menuju SDM yang berkualitas, bila tidak diimbangi ketahanan pangan,” papar Ahmad.

Kata dia, asupan gizi makanan sangat penting, khususnya sejak bayi atau dalam masa konsepsi di janin ibu untuk mengurangi angka malnutrisi.

Ketertinggalan capaian gizi ini harus mendapatkan perhatian mengingat dimensi ini akan memengaruhi kualitas SDM ke depan, saat anak-anak Indonesia saat ini menjadi bagian dari bonus demografi antara 2020-2030.

“Anak-anak sekarang yang stunting akan menjadi pekerja produktif. Artinya, produktivitas tenaga kerja kita akan ditentukan oleh investasi kesehatan termasuk melalui kualitas asupan pangan saat ini,” terangnya.

Ahmad melihat faktor ekonomi terutama pendapatan memengaruhi kualitas asupan. Namun, bukan berarti meningkatkan kesejahteraan selalu diikuti oleh asupan dengan gizi yang lebih baik karena faktor sosial budaya terutama gaya hidup dan perubahan peran dalam keluarga membentuk nilai, selera, dan perilaku konsumsi pangan keluarga.

Asupan pangan akan menjadi salah satu input pembentuk modal manusia yang memengaruhi kesehatan dan capaian pendidikan di masa depan. Karena itu, perbaikan pangan dan gizi harus bersinergi dengan bidang lain, terutama pendidikan dan infrastruktur untuk meningkatkan efektivitas capaian yang lebih baik dari program-program kesehatan dan gizi yang telah dijalankan pemerintah.

Ahmad melanjutkan, sinergi tersebut mencakup berbagai intervensi lintas sektoral melalui pembentukan perilaku konsumsi pangan sehat sejak dini yang ditunjang oleh sarana dan prasarana kesehatan dan pendidikan yang saling menunjang.

“Hal ini juga harus diikuti oleh pengembangan sisi hulu, yaitu penyediaan pangan berkualitas yang terjangkau oleh masyarakat dan memenuhi kebutuhan segmentasi konsumen pangan di Indonesia,” paparnya.



Sumber: BeritaSatu.com