Menteri Susi Pudjiastuti: Pulo Dua Jangan Jatuh ke Tangan Asing

Menteri Susi Pudjiastuti: Pulo Dua Jangan Jatuh ke Tangan Asing
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengupas kelapa saat meninjau lokasi Festival Pulo Dua di Pulo Dua, Kabupateng Banggai, Sulawesi Tengah, Jumat, 26 Juli 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Minggu, 28 Juli 2019 | 14:37 WIB

Banggai, Beritasatu.com - Saat meresmikan pembukaan Festival Pulo Dua 2019 di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjisatuti mengingatkan kepada masyarakat setempat agar Pulo Dua jatuh jangan sampai ke tangan asing.

"Jaga tanah-tanah di Pulo Dua ini menjadi milik orang-orang Pulo Dua. Jangan sampai terjual ke asing karena Pulo Dua ini juga pulau terluar yang penting untuk pertahanan negara kita," kata Susi Pudjiastuti dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (28/7/2019).

Pada Kamis (25/7/2019) malam, Menteri Susi usai meresmikan Pembukaan Festival Pulo Dua 2019 di Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Keesokan harinya, Jumat (26/7/2019), Menteri Susi meninjau langsung lokasi Festival Pulo Dua dengan menggunakan kapal.

Dalam kesempatan tersebut, Susi didampingi Bupati Banggai Herwin Yatim, Wakil Bupati Banggai Mustar Labolo, dan Direktur Polair Polda Sulteng AKBP Indra Rathana. Menteri Susi mengucapkan selamat atas penyelenggaraan Festival Pulo Dua yang ketiga ini. Dia pun berpesan untuk menjaga hak atas tanah di Pulo Dua.



Tak hanya menjaga dari asing, Menteri Susi juga meminta masyarakat menjaga Pulo Dua ini dengan tidak menangkap atau mengambil sumber daya ikan dengan cara-cara yang tidak benar. Menjaga Pulo Dua, tidak hanya dengan menjaga laut, melainkan juga menjaga hutan atau pohon di sekitarnya.

"Laut, hutan, semua harus dijaga. Supaya hutannya tetap hijau. Menyimpan, menampung, dan menghisap kondensasi air laut dan menyimpan air tawar untuk Bapak-bapak di pulau ini. Kalau di pulau ini hijaunya hilang, maka air tawar pun akan hilang. Orang Pulo Dua bisa minum air laut tidak? Kalau tidak, setiap batang pohon itu harus dijaga," katanya.

Menurut Menteri Susi, birunya laut tak akan berguna jika tidak ada ikan dan terumbu karang yang hidup di dalamnya sehingga wisatawan akan enggan berkunjung.

Oleh karena itu, ia meminta masyarakat untuk meninggalkan cara-cara penangkapan ikan yang merusak.

Sebelumnya, Susi menyatakan, keberhasilan pemberantasan illegal fishing atau penangkapan ikan secara ilegal jangan sampai dirusak dengan perilaku penangkapan ikan destruktif oleh nelayan lokal seperti dengan menggunakan bom ikan yang merusak ekosistem perikanan nasional.



Sumber: BeritaSatu.com