Chevron dan YKAN Luncurkan Program Pengelolaan Pesisir Terpadu di Riau

Chevron dan YKAN Luncurkan Program Pengelolaan Pesisir Terpadu di Riau
Darwis Mohammad Saleh (berdiri) tengah menjelaskan tentang aktivitasnya dalam pelestarian mangrove di Bandar Bakau, Dumai, Riau. ( Foto: Ist )
Heriyanto / HS Senin, 29 Juli 2019 | 10:29 WIB

Dumai, Beritasatu.com - PT. Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara sebagai afiliasi dari The Nature Conservancy (YKAN TNC) meluncurkan Program Pengembangan Pengelolaan Pesisir Terpadu di Provinsi Riau. Program ini merupakan upaya konservasi hutan mangrove dan ekosistemnya dengan memfokuskan pada faktor ekologi, sosial, dan ekonomi.

Peluncuran program diselenggarakan di Bandar Bakau, Pengkalan Sesai, Kota Dumai, Sabtu (27/7/2019) yang dihadiri Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial Kementeriaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPEE KLHK) Tandya Tjahjana, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau Ahmad Hijazi, Pejabat Sekretaris Daerah (Sekdako) Dumai H Hamdan Kamal, Kepala Departemen Operasi SKK Migas Sumatera bagian utara (Sumbagut) Haryanto Syafri, dan perwakilan Pemkab Bengkalis, Riau.

Dalam acara tersebut, karyawan PT CPI dan YKAN bersama masyarakat juga melakukan bersih-bersih sampah dan diskusi interaktif meningkatkan kesadaran pentingnya pelestarian hutan mangrove. Kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Mangrove Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 26 Juli.

Dengan ekosistem hutan mangrove seluas 143 ribu hektare yang tersebar di wilayah Dumai, Bengkalis, Rokan Hilir, Meranti, Pelalawan, Siak, dan Indragiri Hilir, Riau berpotensi menjadi pusat riset dan pengembangan hutan mangrove di Pulau Sumatera. Untuk tahap awal, Program Pengembangan Pengelolaan Pesisir Terpadu di Riau akan dimulai di dua lokasi yakni Pangkalan Sesai, Kota Dumai, dan Teluk Pambang, Kabupaten Bengkalis. Pengelolaan pesisir terpadu tersebut merupakan bagian dari kerja sama PT CPI dan YKAN melalui Program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA).

“Saat ini, kami akan fokus pada studi desain rencana restorasi kawasan pesisir di Pangkalan Sesai dan Teluk Pambang. Hasil studi diharapkan selesai akhir tahun ini sehingga implementasi program dapat dimulai tahun 2020,” kata Wahyu Budiarto yang juga Senior Vice President Corporate Affairs PT CPI.

Sejalan dengan itu, PT CPI dan YKAN juga menggelar Lokakarya Pengelolaan Pesisir Terpadu di Pekanbaru pada Kamis (25/7/2019) untuk membangun sinergitas perencanaan pengelolaan pesisir terpadu di Riau. Para peserta berasal dari perwakilan pemerintah provinsi, organisasi nirlaba, akademisi, pegiat lingkungan, dan media.

Darwis Mohammad Saleh, salah seorang pegiat pelestarian mangrove di Bandar Bakau, Dumai, menyatakan penyelamatan kawasan mangrove harus diprioritaskan. Selain berperan sebagai benteng pertahanan kawasan pesisir, sekitar 80 persen hasil ikan tangkapan di dunia bergantung pada hutan mangrove. Akarnya yang rapat dan lingkungan vegetasi di sekitarnya berperan penting untuk menyaring air dari kotoran dan polutan lainnya untuk menghasilkan air bersih.

Seperti diketahuhi, kemitraan PT CPI dan YKAN dalam Program MERA bertujuan mengembangkan, memperkenalkan, dan mengimplementasikan pengelolaan kawasan pesisir yang terpadu dan berkelanjutan. Rangkaian kerja restorasi mangove merupakan bagian kesepakatan bersama PT CPI dan YKAN selama 12 bulan dalam periode kerja sama selama lima tahun.

“Restorasi ekosistem mangrove bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga tanggung jawab semua pihak, termasuk pihak swasta. Untuk itu kami sangat mengapresiasi semua pihak yang membantu implementasi program MERA ini,” kata Direktur BPEE KLHK Tandya Tjahjana, yang hadir mewakili Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem KLHK.

Pihaknya, lanjut dia, siap mendukung pengelolaan terpadu seperti MERA untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi hutan mangrove di Indonesia. MERA merupakan inisiasi yang dikembangkan YKAN guna menjawab kekhawatiran kerusakan sumber daya alam, khususnya mangove.

“Kemitraan multipihak MERA ini merupakan jawaban untuk mengatasi permasalahan pengelolaan kawasan pesisir. Restorasi dan konservasi ekosistem hutan mangove merupakan tindakan prioritas bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di pesisir dan pelestararian keanekaragaman hayati,” tambah Ketua YKAN, Rizal Algamar.

Selain di Riau, program MERA serupa juga sudah diimplementasikan di hutan mangrove di Teluk Jakarta. Sedangkan YKAN adalah organisasi yang mempunyai misi melindungi daratan dan perairan yang menjadi sandaran kehidupan.