Bantu Kebutuhan Warga, Mahasiswa UGM Ubah Air Lahan Gambut Jadi Air Bersih

Bantu Kebutuhan Warga, Mahasiswa UGM Ubah Air Lahan Gambut Jadi Air Bersih
Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan (kedua kanan) memegang gelas berisi air kotor yang berasal dari sungai di Desa Rasau Jaya, bersama Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta Paripurna yang memegang gelas berisi air bersih yang dioleh dengan teknologi sederhana pemurnian air, karya mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN)-Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) UGM, saat berkunjung ke lokasi KKN di Desa Rasau Jaya, Kubu Raya Kalimantan Barat, Sabtu (27/7). ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / LES Senin, 29 Juli 2019 | 11:51 WIB

Kubu Raya, Beritasatu.com - Air kecoklatan yang disebabkan oleh beragam zat organik yang menyebabkan air bersifat asam, terpaksa jadi teman sehari-hari masyarakat yang tinggal di lahan gambut, Desa Rasau Jaya, Kubu Raya Kalimantan Barat. Tidak sedikit warga yang terpaksa mengonsumsi air keruh kecokelatan dengan kadar TSS (total suspended solid) 232 mg/L dan pH yang mencapai angka 3 4, yang tidak memenuhi standar kualitas air bersih ini. Ancaman kesehatan dari penyakit kulit hingga disentri, mengancam warga Desa Rasau Jaya.

Menjawab persoalan ini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN)-Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, mencoba mencari solusinya dengan teknologi sederhana pemurnian air di Desa Rasau Jaya. Kegiatan di Desa Rasau Jaya 1 ini dibagi menjadi empat kelompok, yakni kelompok medika, sosial humaniora, agro, dan saintek. Di antara kelompok tersebut, yang menjadi fokus pada KKN kali ini adalah pemurnian air di puskesmas Rasau Jaya 1.

Instalasi pemurnian air dibuat menggunakan material yang terjangkau dan mudah diperoleh, dengan proses yang meliputi koagulasi (penggumpalan), sedimentasi, dan filtrasi. Dalam proses tersebut, air sungai dipompa dan dialirkan melewati klorin yang berfungsi untuk membunuh bakteri. Air tersebut ditampung di tandon untuk mengalami proses koagulasi dengan penambahan pH up dan PAC dan kemudian diendapkan. Air yang telah jernih kemudian difilter untuk menghilangkan sisa material sisa padatan ke dalam tangki penyimpanan untuk kemudian digunakan.

Koordinator Pembuatan Instalasi Air Bersih Rasau Jaya 1 KKN UGM KB-008 Neisya Isni Belqisti, bersama timnya mencoba memberikan solusi dengan membuat penjernih air sungai. Air yang bersumber dari lahan gambut dan air sungai Kapuas warnanya merah kecoklatan, disebabkan oleh senyawa organik. Teknologi sederhana pemurnian air, karya mahasiswa, memang belum mampu mencapai standar baku mutu air minum, namun untuk memberikan solusi air bersih MCK (mandi-cuci-kakus) sudah layak.

“Karena keterbatasan alat analisis kami, dua parameter yakni analisis Total Suspend Solid (TSS) dan pH, yakni pH awalnya itu 3-4 dan setelah saya analisis itu sekitar 3,2 kadang 3,4 dengan proses ini mmpu menjadi 6-7," terang Neisya Isni kepada Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta Paripurna, yang didampingi Bupati Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan, saat berkunjung ke lokasi KKN UGM, Sabtu (27/7).

Cara kerja alat cukup sederhana, menurut Neisya cukup menyedot air sungai masuk ke tabung berisi klorin atau kaporit yang berfungsi membunuh mikroba serta mengurangi bahan organik misalnya sisa makanan. Setelah itu air akan masuk ke bak koagulasi (penggumpalan) untuk menambahkan pH. “Setelah pH mencapai target 8-9, kemudian baru ditambah Poli Aluminium Cloride (PAC) untuk memadatkan padatan terlarut hingga otomatis airnya bening. Lalu air mengalir melewati nano filter masuk ke penyimpanan atau langsung ke kamar mandi,” ujarnya.

Untuk mendapatkan 500 liter air bersih, biayanya bubuk klorin sekitar Rp 4.000. Tandon air, hingga filter, berbiaya sekitar Rp 1,5 juta jika tanpa pompa. Jika ditingkatkan untuk air minum, dibutuhkan filter karbon aktif, disinfektan, dan satu tangki lagi satu sebagai filternya. Alat penjernih air ini dibuat secara sederhana, sehingga nantinya dapat direplikasi oleh masyarakat, Pembuatan alat penjernih air membutuhkan dana yang cukup ekonomis.

Air Hujan
“Di sini masyarakat menggunakan air sungai untuk mandi, cuci, kakus. Sementara untuk kebutuhan makan dan minum, mereka pakai air hujan yang ditampung. Harapannya setelah kami bangun di Puskesmas, bisa diterapkan di rumah-rumah warga karena untuk membangun ini cukup murah Rp 2 juta sudah sama pompa airnya,” ungkap Neisya.

Koordinator mahasiswa KKN, Monika Listania Yuliandari, menerangkan air sungai di desa tersebut berwarna merah kecokelatan dengan kadar TSS ( total suspended solid) 232 mg/L dan pH yang mencapai angka 3 – 4. Tim KKN UGM memberikan solusi dengan membuat penjernih air sungai yang dapat menurunkan kadar TSS menjadi 68 mg/L dengan pH 6-6,5 sehingga lebih layak digunakan untuk aktivitas mandi, cuci, dan kakus.

“Alat penjernih air ini dibuat secara sederhana sehingga nantinya dapat direplikasi oleh masyarakat. Pembuatan alat penjernih air membutuhkan dana yang cukup ekonomis,” jelasnya.

Di samping itu, tim KKN UGM juga memugar objek pariwisata berupa taman bunga di Rasau Jaya Tiga yang dikenal sebagai ‘Rajati Flower Garden’. Kebun yang dibuka pada tahun 2018 ini, ujar Monika, berpotensi menjadi objek pariwisata unggulan Pontianak dengan penyempurnaan syarat pariwisata yang meliputi akses, amenitasi, dan atraksi.

“Dalam perencanaan masterplan tim KKN UGM, Rajati Flower Garden dikembangkan dari segi atraksi dengan menambahkan jenis bunga baru dan beberapa spot foto sebagai ‘point of interest’ serta menginisiasi cinderamata khas Rajati sebagai tambahan pemasukan,” imbuh mahasiswi Fakultas Teknik ini.



Sumber: Suara Pembaruan