Wagub Jatim Dukung Penggunaan Dana Desa Tangani Stunting

Wagub Jatim Dukung Penggunaan Dana Desa Tangani Stunting
Forum sosialisasi gerakan Aksi Cegah Stunting di Kantor Dinas Kesehatan Jatim yang dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak. ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Rabu, 31 Juli 2019 | 17:22 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak mendukung kerja sama lintas pemangku kepentingan dalam mengatasi dan mencegah masalah stunting pada anak. Dia mendorong kepala desa, di daerah yang menjadi lokus penanganan nasional, mengalokasikan dana desa untuk mencegah stunting.

Menurutnya, angka stunting di Jawa Timur sudah cukup mengkhawatirkan. Dia menyebutkan, jumlah balita stunting sudah mencapai 30 persen dari jumlah balita yang ada di Jawa Timur. Data itu terungkap di forum sosialisasi gerakan Aksi Cegah Stunting di Kantor Dinas Kesehatan Jatim, yang dihadiri oleh Direktur Jenderal diikuti kepala dinas dari 18 kabupaten dengan prevalensi stunting tinggi di Jatim.

"Dalam diskusi tadi disebut 75 persen dari yang stunting kemunginan IQ-nya di bawah rata-rata. Bayangkan kalau ini terjadi di Jatim. Bagaimana kami bisa mengentas kemiskinan? Ini pekerjaan rumah yang urgent, sangat urgent," ujar Emil.

"Setelah ini IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) bersama Dinkes dan tim Profesor dr Damayanti dan PDT akan merumuskan langkah tindak lanjut. Pemprov akan mendukung," ujar Wagub Jatim.

Pemprov Jatim, dikatakan akan mengambil langkah spesifik daerah mana saja yang perlu menjadi fokus penanganan. Akan ada sejumlah desa di kecamatan yang sama yang menjadi fokus penanganan. Nanti puskesmasnya bisa jadi lokus (penanganan stunting) untuk penerapan penanganan sesuai metode Aksi Cegah Stunting ini.

"Kasih kami waktu satu sampai dua bulan ke depan untuk merancang ini," katanya.

Tidak hanya itu, Pemprov akan mendorong kepala desa agar menganggarkan dana desa untuk penanganan stunting. Dia meminta Badan Permusyawaratan Desa (BPD) untuk memastikan kepala desanya berkomitmen soal ini.

"Ini bukan soal takut, ini soal komitmen. Sudah ada buku panduan untuk Tahun Anggaran 2020, dana desa untuk kebutuhan kesehatan itu apa saja yang harus dilakukan. Itu harusnya dipenuhi. PDIT juga turun, kan?" katanya.

Sementara itu Samsul Widodo Dirjen PDT mengatakan, gerakan ini diinisasi karena keresahan terhadap penanganan stunting yang tidak spesifik.

"Kami merasa, banyak yang bicara soal stunting tapi semua tentang kelembagaan, makro, kebijakan. Tidak ada langkah konkrit yang harus dilakukan di level desa," ujarnya. "Sampai akhirnya saya bertemu Profesor Damayanti."

Dia meyakini, dana desa bisa dialokasikan untuk mendukung gerakan pencegahan stunting ini. "Bisa dipakai untuk beli timbangan, alat ukur (untuk Posyandu), bisa juga untuk makanan tambahan dan sebagainya," katanya.

Samsul mengatakan, pekan depan dia akan mengirimkan tim untuk mendiskusikan teknis rencana tindak lanjut penerapan gerakan ini di Jawa Timur. Ini pertama kali kami menggandeng daerah lain setelah penelitian kami di Pandeglang. Sebenarnya kami juga menyasar Jateng, Jabar, dan Indonesia Timur. Di putaran kedua nanti kami coba ke NTT atau daerah lain dengan prevalensi stunting tinggi, katanya.

Soal kepala desa yang belum menganggarkan dana desa untuk pencegahan stunting, Samsul yakin itu disebabkan karena selama ini tidak ada advokasi yang konkrit kepada mereka. Bukan mereka tidak mau, tapi tidak tahu. Makanya dari forum ini kami punya kesepakatan dengan dinas PPMD dan Dinkes bersama-sama menyasar dan mencegah stunting, dan Pak Wagub merespons dengan baik," tutup Samsul.



Sumber: BeritaSatu.com