Polusi Udara Bisa Menurunkan Tingkat Kecerdasan

Polusi Udara Bisa Menurunkan Tingkat Kecerdasan
Kampanye udara bersih. ( Foto: Antara )
Winda Ayu Larasati / WIN Kamis, 1 Agustus 2019 | 20:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bagi Anda yang tinggal di kota besar, rasanya sulit untuk menghindari polusi udara dalam keseharian. Namun, sebaiknya kita tetap menjaga kesehatan tubuh kita dengan mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran serta olahraga yang rutin agar tubuh tetap prima. Namun, apakah polusi udara bisa merusak tubuh kita?

Data Air Visual mencatat bahwa Kota Jakarta, Indonesia berada di urutan pertama dengan kondisi polusu terburuk se-dunia.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh Proceedings for the National Academy of Sciences mengemukakan paparan sulfur dioksida dan nitrogen dioksida dalam jangka panjang bisa memicu penurunan fungsi kognitif seiring bertambahnya usia.

Pemimpin penelitian dari Beijing Normal University mengatakan polusi udara menyebabkan kerusakan lebih besar pada material putih di otak (white matter) yang berkaitan dengan kemampuan bahasa.

Pemimpin penelitian dari Beijing Normal University Xin Zhang mengatakan, otak wanita memiliki material putih lebih banyak daripada pria, artinya, kerusakan pada material putih pria yang lebih sedikit, menempatkan mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan kognitif.

Dekan Colorado School of Public Health Jonathan Samet menyampaikan penelitian selanjutnya dibutuhkan untuk memahami bagaimana partikel polusi memasuki otak, fungsi apa yang dipengaruhinya dan berapa lama bisa bertahan di sana.

Samet juga mengatakan polusi udara bisa bergerak di sepanjang saraf penciuman hingga ke otak atau masuk ke dalam darah. Paru-paru juga adalah sebuah portal masuk.

Selain berbahaya bagi paru-paru dan otak, polusi udara juga memengaruhi jantung dan sistem reproduksi. Ahli toksikologi lingkungan dari University of North Carolina Dan Costa menyatakan hal itu terjadi karena sunsunan internal tubuh manusia saling berhubungan.

Ia mengatakan, ketika ada racun yang masuk ke dalam tubuh, efeknya terjadi di mana-mana.

Data dari WHO 2018 menunjukkan sembilan dari 10 orang di dunia menghirup udara kotor setiap harinya.

Menurut Samet, hal yang bisa dilakukan untuk menanggulangi pencemaran adalah mengubah pola pikir manusia agar lebih peduli dengan lingkungan. Misalnya, meningkatkan dan memperbaiki sarana transportasi umum serta perencanaan kota yang lebih baik.



Sumber: National Geographic