Menristekdikti: Jokowi Restui Rektor Asing Pimpin PTN

Menristekdikti: Jokowi Restui Rektor Asing Pimpin PTN
Menristekdikti Mohamad Nasir memberikan pidato sambutan saat acara Revitalisasi Pendidikan Vokasi, Jakarta, Rabu 17 Juli 2019. Seminar ini diselenggarakan untuk menjawab ajakan pemerintah kepada sektor industri agar meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, disamping itu untuk membekali siswa didik dengan pendidikan serta keterampilan yang selaras dengan karakteristik dan kebutuhan industri terkait. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Stefy Tenu / IDS Jumat, 2 Agustus 2019 | 11:00 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Sejumlah rektor dari perguruan tinggi di luar negeri berminat untuk menjadi rektor perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia. Para rektor yang berminat itu di antaranya berasal dari Korea, Amerika Serikat dan Inggris.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah merestui wacana tersebut.

“Secara lisan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menyetujui wacana rektor asing tersebut. Nantinya akan saya sampaikan dalam rapat kabinet agar mendapatkan respons,” ujar Nasir seusai menghadiri pengambilan sumpah dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, Kamis (1/8).

Meski telah mendapatkan persetujuan lisan dari Presiden, menurut Nasir belum tentu kebijakan mendatangkan rektor asing bisa dilaksanakan karena tergantung dari persiapan yang dilakukan Kemristekdikti.

“Tergantung persiapan saya, kalau tidak tidak bagus bisa saja di-pending dulu,” ungkapnya.

Nasir memberi contoh, ada seorang mantan rektor dari sebuah perguruan tinggi ternama di Korea yang sudah menawarkan diri untuk menjadi rektor di Indonesia.

"Saat menjadi rektor di negaranya, dia bisa mengubah perguruan tinggi biasa di Korea menjadi kelas dunia. Saya pikir, ini harus direspons positif,” ujar Nasir.

Selain dari Korea, menurutnya, mantan rektor dari perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Inggris juga sudah menyatakan diri berminat dan bertanya tentang prosedur untuk menjadi rektor di Indonesia.

Untuk menindaklanjuti hal tersebut, Kemristekdikti akan membentuk tim untuk merumuskan prosedur rekrutmen rektor asing tersebut.

Menurut Nasir, wacana rektor asing sebenarnya sudah pernah disampaikan pada 2016. Namun, karena saat itu gelombang penolakan sangat tinggi dari berbagai pihak dan menimbulkan kegaduhan, maka dihentikan.

Padahal, beberapa negara sudah menerapkan rektor asing untuk menjabat, hal itu sudah lazim dan tidak masalah.

"Saat berkunjung ke Norwegia, saya bertemu dengan orang dari Jerman yang menjadi rektor perguruan tinggi di negara tersebut," ujarnya.

Hal yang sama juga terjadi di Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Tiongkok, di mana rektor perguruan tingginya banyak berasal dari luar negeri. Faktanya, cukup banyak membawa kemajuan bagi perguruan tinggi di negara tersebut.

Nasir berpandangan, perlu ada perubahan yang fundamental agar peringkat perguruan tinggi di Indonesia masuk tingkat dunia.

"Pihak yang menolak rektor asing belum pernah melihat perkembangan perguruan tinggi,” imbuhnya.

Masuknya rektor asing, menurut Nasir, tidak akan mengubah kebudayaan mahasiswa Indonesia. Semangat nasionalisme dan semangat kebangsaan mahasiswa tetap dipertahankan. Nasir mencontohkan, nasionalisme para mahasiswa di Singapura tidak terpengaruh kendati rektor mereka berasal dari Amerika Serikat.

Sementara itu, Rektor Undip Semarang, Prof Yos Johan Utama, tidak bersedia berkomentar terkait wacana rektor asing tersebut.

“Saya manut (mengikuti perintah) Pak Menteri saja,” ujar Yos.



Sumber: Suara Pembaruan