MUI Sebut Kader HTI Masih Sebarkan Paham Khilafah ke Mahasiswa, ASN, dan Militer

MUI Sebut Kader HTI Masih Sebarkan Paham Khilafah ke Mahasiswa, ASN, dan Militer
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid Sa'adi (tengah) saat menjadi pembicara di acara FGD dengan tema "Pancasila dan Ancaman Radikalisme" yang diselenggarakan oleh PP IPNU Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Jumat, 2 Agustus 2019. ( Foto: Beritasatu Photo )
Yustinus Paat / JAS Sabtu, 3 Agustus 2019 | 20:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi menyebutkan bahwa Pancasila menghadapi dua tantangan ke depan, yakni radikalisme agama dan radikalisme sekuler. Menurut Zainut, keduanya adalah paham yang mengancam eksistensi Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Zainut dalam acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema "Pancasila dan Ancaman Radikalisme" yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Jumat (2/8/2019).

"Radikalisme agama adalah gerakan yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi yang berbasiskan agama, contohnya khilafah," ujar Zainut.

Gerakan ini, kata Zainut, secara masif melakukan penyebaran pahamnya melalui berbagai media dengan menyasar banyak kalangan. Meskipun HTI sebagai ormas yang mengusung paham khilafah sudah dibubarkan oleh pemerintah, tutur dia, tetapi ajarannya terus didakwahkan oleh kader-kadernya kepada banyak kalangan.

"Ajarannya terkhusus didakwakan kepada kelompok-kelompok staregis, misalnya pelajar, mahasiswa, ASN, dan kalangan militer," ungkap dia.

Menurut pandangan MUI, kata Zainut, khilafah memang bersumber dari ajaran Islam, namun khilafah bukanlah satu-satunya sistem pemerintahan yang sesuai dengan syariat Islam. NKRI dengan Pancasila sebagai dasar dan falsafah bangsa, yang merupakan hasil ijtihad para ulama dan sudah menjadi kesepakatan para tokoh pendiri bangsa juga tidak bertentangan dengan syariat Islam.

"Sehingga setiap upaya yang ingin memaksakan faham khilafah untuk diterapkan di Indonesia, adalah bentuk pengingkaran terhadap kesepakatan bangsa Indonesia yang sudah menerima NKRI dan Pancasila. Upaya tersebut juga dapat berpotensi melahirkan konflik dan ancaman bagi keutuhan bangsa dan negara Indonesia," jelas dia.

Sedangkan tantangan Pancasila yang kedua, lanjut Zainut, adalah ancaman paham radikalisme sekuler, yaitu paham yang ingin memisahkan Pancasila dari nilai-nilai agama. Gerakan ini, kata dia menghendaki agar bangsa Indonesia menjadi bangsa sekuler, liberal dan jauh dari nilai-nilai agama.

"Untuk menghadapi tantangan dan ancaman tersebut, MUI mengajak seluruh kader IPNU untuk menguatkan komitmennya kepada nilai-nilai perjanjian luhur bangsa Indonesia yaitu Pancasila, UUD RI Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang utuh, bersatu, kuat dan sejahtera," imbuh Zainut.



Sumber: BeritaSatu.com