12 Korban Perdagangan Manusia di Situbondo Ingin Pulang ke Bandung

12 Korban Perdagangan Manusia di Situbondo Ingin Pulang ke Bandung
Ilustrasi perdagangan manusia ( Foto: Beritasatu.com/Danung Arifin )
Aries Sudiono / YUD Selasa, 6 Agustus 2019 | 09:23 WIB

Situbondo, Beritasatu.com - Tim Resmob Polres Situbondo menangkap pasangan suami istri (pasutri) yang diduga terlibat dalam kasus perdagangan manusia (human trafficking) 12 gadis asal Bandung, Jawa Barat. 12 gadis tersebut dijadikan pekerja seks komersial (PSK). Pasutri bernama Slamet (57) dan Subaidah (50), warga Desa Kotakan, Kecamatan Kota, Kabupaten Situbondo itu ditangkap dari tempat persembunyiannya di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Gandusari, Kota Blitar, Senin (5/8/2019) malam setelah masuk dalam daftar buron selama sepekan.

“Keduanya kabur ke rumah saudaranya dengan alasan sedang berobat ke salah seorang tabib di Blitar. Di rumah itu keduanya kita amankan setelah sepekan dalam pencarian,” ujar Kapolres Situbondo AKBP Awan Hariono yang dikonfirmasi melalui Humas Polres Situbondo, Ipda Nanang Priyambodo, Selasa (6/8/2019). Dengan ditangkapnya pasutri itu kini jumlah tersangka genap menjadi tiga orang yang semuanya masih satu keluarga karena berstatus pasutri dan anak perempuannya.

Ketika awal penanganan perkara kasus human trafficking dibongkar, petugas Resmob Polres Situbondo hanya menangkap anak perempuan pasutri itu, berinisial NT (33) dan mengamankan 12 anak saksi korban. NT sendiri merupakan eks PSK yang bekerja cukup lama di Bali. Ia kemudian bersama rekan PSK berinisial IN (20) remaja putri asal Bandung, hijrah ke Situbondo dengan merekrut gadis-gadis remaja dari Bandung untuk dipekerjakan sebagai PSK di eks lokalisasi Gunung Sampan, Situbondo.

“Sedangkan IN yang kini menghilang, sedang dalam pencarian karena dipastikan akan menjadi tersangka karena sebagai perekrut dari Bandung ke Situbondo,” tandas Ipda Nanang Priyambodo sambil menambahkan, untuk pasutri Slamet dan Subaidah, kini masih menjalani pemeriksaan petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Situbondo. Dibenarkan, karena kondisi kesehatan tersangka Slamet naik-turun akibat menderita sakit tertentu sehingga penyidikan pun berlangsung lamban.

Sebagaimana diberitakan, NT dibantu IN sengaja menjerat gadis-gadis belia di Bandung dengan pinjaman uang hingga jutaan rupiah. Karena tidak bisa segera mengembalikan uang pinjaman, mereka diajak bekerja di usaha karaoke di Situbondo. Namun ketika sampai di Situbondo, mereka dipaksa untuk melayani lelaki hidung belang. Dari uang hasil melayani tamu-tamu lelaki hidung belang itu, sebagian untuk membayar fee induk semang Slamet-Subaidah juga untuk keperluan mengangsur hutang-hutangnya.

Dari pengakuan ke-12 remaja putri berusia antara 14-18 tahun itu mereka dijual dengan tarif short time Rp 200.000 dan Rp 500.000 jika bermalam. Dari uang itu mereka harus setor Rp 50.000 untuk sewa kamar, Rp 20.000 untuk sopir antar-jemputnya dan Rp 120.000 untuk mereka. Namun pada umumnya anak-anak korban mucikari itu harus mengangsur uang pinjaman sebesar antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000 kepada NT.

Untuk kepentingan penyidikan, ke-12 gadis Bandung ini ditampung sementara di Kantor Dinas Sosial setempat kendati mereka mengaku ingin segera kembali pulang ke orang tua masing-masing. Polisi juga telah berkoordinasi dengan keluarga para korban yang mengaku sudah kehilangan anak-anak gadisnya selama berbulan-bulan. Sementara tersangka mendekam di sel Mapolres Situbondo. Atas kasus tersebut, ketiga tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 dan 2 juncto Pasal 17 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Penjualan Orang. 



Sumber: Suara Pembaruan