Oknum TNI Penjual Amunisi ke KKB Ditangkap

Oknum TNI Penjual Amunisi ke KKB Ditangkap
Ilustrasi amunisi ( Foto: Antara )
Robert Isidorus / YUD Rabu, 7 Agustus 2019 | 06:45 WIB

Jayapura, Beritasatu.com - Pomdam XVII Cenderawasih memproses hukum Pratu DAT tersangka penjual amunisi kepada kelompok KKSB (Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata) di Timika. Tersangka sempat melarikan diri selama dua minggu sebelum dijemput petugas Pomdam XVII Cenderawasih di Bandara Sentani, Selasa (6/8/2019) usai ditangkap di Sorong, Papua Barat.

Pratu DAT ditangkap tim gabungan Intel Korem 181/PVT dan Unit Inteldim 1802/Srg saat acara kedukaan di rumah kerabatnya di Kompleks Melati Raya, Sorong, Minggu (4/8/2019).

"Dia melarikan diri dari Timika, sempat semalam di Dobo kemudian ke Sorong, di Sorong juag berpindah-pindah tempat sampai akhirnya ditangkap," terang Kapendam XVII Cenderawasih Letkol CPL Eko Daryanto, Selasa (6/8/2019).

"Saat ini tersangka sudah ditangani Pomdam untuk proses hukum. Nantinya akan diketahui bagaimana keterlibatannya dalam penjualan amunisi tersebut."

Selain DAT dua orang rekannya Pratu M dan Pratu O lebih dulu diamankan dan kini berada di Divisi III Kostrad Kariango, Makassar, Sulawesi Selatan, terkait penjualan amunisi tersebut.

Dugaan keterlibatan ketiga oknum anggota TNI tersebut diketahui setelah Satgas Nemangkawi dan Polres Mimika menangkap tiga orang anggota jaringan KKSB Papua dengan ratusan amunisi di depan Diana Shopping Center, Jalan Budi Utomo, Kota Timika, beberapa waktu lalu.

"Dari hasil penyidikan tiga warga sipil tersebut diketahui jika ketiga oknum TNI ini diduga memasok amunisi kepada jaringan KKSB," tegas Eko.

Pratu DAT, Pratu M dan Pratu O sebelumnya bersama-sama bertugas di Brigif Timika selama 11 bulan. Pratu DAT selanjutnya dipindah ke Kodim 1710/Mimika dan dua rekannya ke Kostrad Kariango di Makassar.

"Kita akan melakukan tindakan tegas terhadap yang bersangkutan, sesuai UU Darurat No. 12 Tahun 51 Pratu. DAT dapat dikenai sanksi hukuman maksimal hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara setinggi-tingginya 20 tahun,” tegas Eko.



Sumber: Suara Pembaruan