Cegah Calon Polisi Radikal, Polri Cek Medsos

Cegah Calon Polisi Radikal, Polri Cek Medsos
Brigjen Pol Dedi Prasetyo. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / JAS Kamis, 8 Agustus 2019 | 20:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Mabes Polri punya sejumlah cara untuk mencegah anggota polisi yang baru direkrut mempunyai ide radikal. Salah satunya korps baju cokelat itu bekerja sama dengan Dukcapil untuk memastikan latar belakang calon tersebut.

“Di situ kan ditemukan kebenaran identitas yang bersangkutan, orang tuanya, kemudian latar belakangnya, mulai sekolahnya SD, SMP, SMA. Kemudian kalau dia berpindah-pindah di situ ada surat keterangan pindahnya juga,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri Kamis (8/8/2019).

Setelah itu ada penelusuran mental kepribadian. Intelijen dan propam melakukan profiling terhadap seluruh calon anggota Polri. Baik konvensional, artinya didatangi rumahnya, wawancara dengan orang tua, tetangga kanan dan kiri, demikian juga teman-temannya.

“Kemudian setelah di lapangan mendapatkan data, masih ada tes tahapan terakhir adalah wawancara. Di wawancara itu menentukan apakah yang bersangkutan jujur atau tidak dengan profiling data yang didapatkan di lapangan,” imbuhnya.

Kalau misalkan tidak jujur, maka dia akan tidak lulus atau tidak memenuhi persyaratan. Baru nanti tahapan akhir —dari seluruh rangkaian tes—adalah pantukhir atau penentuan tahap akhir.

Isinya pejabat Polda atau Mabes akan kembali akan mewawancarai yang bersangkutan. Media sosial juga dicek direktorat siber tiap Polda yang akan memprofil calon anggota Polri tersebut. Akun Twitter, Facebook, dan Instagram, semua akan diperiksa.

“Sehingga di bagian akhir semaksimal mungkin diketemukan bahwa personel atau calon-calon anggota Polri yang akan mengikuti pendidikan itu harus clear,” sambungnya.

Kalau misalnya, nanti, selama perjalanan masih ada masukan dari masyarakat bahwa yang bersangkutan melakukan pelanggaran sehingga dinilai tidak layak menjadi anggota Polri, maka si calon tidak akan lolos.



Sumber: BeritaSatu.com