14 Nama Ini Berpeluang Maju di Pilkada Sumenep

14 Nama Ini Berpeluang Maju di Pilkada Sumenep
Ilustrasi pilkada. ( Foto: Antara )
Aries Sudiono / JEM Jumat, 9 Agustus 2019 | 15:34 WIB

Sumenep, Beritasatu.com - Lembaga Kajian dan Riset (LKR) Santri Politika, merilis 14 nama yang potensial maju sebagai calon bupati Sumenep, Jawa Timur, pada Pilkada Serentak September 2020.

Ke-14 nama tokoh yang telah dijaring itu berasal dari latar belakang yang beragam mulai dari politisi, pengusaha, birokrat, dan tokoh agama. Mereka tidak saja populer namun juga dinilai mumpuni serta tingkat pengenalan kepada pelbagai hal tentang masyarakat dan pembanguinan di Kabupaten Sumenep cukup tinggi.

“Nama-nama mereka muncul berdasar pada kapabilitas, performa, dan kans mereka,” kata peneliti LKR Santri Politika, Moh Ridwan, yang dikonfirmasi, Kamis (8/8/2019).

Dikatakan, meski punya kans hampir sama, namun tren ke-14 nama tersebut masih bisa berubah-ubah karena dinamika politik dalam beberapa bulan ke depan masih cukup dinamis.

“Penyebutan urutan nama-nama ke-14 tokoh itu, bukan berdasarkan perolehan suara hasil survei atau popularitas mereka tetapi sekedar memudahkan penulisan semata,” jelas Ridwan.

Di antara nama-nama yang berpotensi menjadi pemimpin di Kabupaten Sumenep itu, ada dua nama yang dinilai paling berpeluang yakni Achsanul Qosasi selaku boss Madura United FC dan Fattah Jasin yang kini Kepala Kanwil Dinas Perhubungan Jatim.

“Nantinya memang mereka sangat bergantung pada tiket dari partai politik (parpol) atau mungkin maju secara independen,” tandas Moh. Ridwan lagi.

LKR Santri Politika, kata Ridwan, akan melakukan survei lanjutan untuk melihat kembali tren ke-14 nama itu siapa yang paling berpeluang.

Sementara Fatah Jasin yang diminta komentarnya dengan senyum khas mengaku belum bisa memberikan kepastian apakah akan ikut pilkada atau tidak.

“Sampai hari ini saya masih tetap fokus menyelesaikan tugas di Dishub Jatim,” ujarnya.

Kalau parpol yang melamar, Fattah menjawab akan berikhtiar untuk memikirkan yang terbaik karena selama ini darah yang mengalir adalah seorang birokrat. “Kita lihat nanti ya,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan