Jimly Asshiddiqie: Razia Buku Kemunduran Bangsa Indonesia

Jimly Asshiddiqie: Razia Buku Kemunduran Bangsa Indonesia
Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie. ( Foto: Beritasatu Photo / Mohammad Defrizal )
Fana Suparman / JAS Sabtu, 10 Agustus 2019 | 06:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie menegaskan razia maupun sweeping terhadap buku maupun atribut yang berkaitan dengan pemikiran merupakan kemunduran bangsa Indonesia. Sebagai negara demokrasi, Indonesia seharusnya memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpikir.

"Masyaallah ini kemunduran. Di era demokrasi ini kita harus beri ruang jangan ada sweeping buku lagi. Mau buku tentang Wahabi, Hizbut Tahrir, komunisme. Buku adalah buku, tidak usah di-sweeping, bendera Tauhid tidak usah di-sweeping, baju Nazi, baju eks PKI sudahlah. Biarkan saja," kata Jimly saat menjadi pembicara dalam Pengajian Bulanan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah dengan tema "Muhammadiyah dan Kemerdekaan Indonesia" di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (9/8/2019) malam.

Diketahui, sweeping dan razia buku-buku yang membahas tema komunisme dan Partai Komunis Indonesia kembali marak terjadi. Salah satunya razia yang dilakukan Brigade Muslim Indonesia (BMI) di Gramedia Trans Mall Makassar, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

Salah satu buku yang dirazia BMI merupakan buku Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme karya Guru Besar filsafat STF Driyarkara dan rohaniwan Katolik Franz Magnis-Suseno yang sebenarnya merupakan kritik terhadap Marxisme.

Jimly menekankan kemerdekaan yang susah payah direbut dari penjajah tidak ada artinya tanpa kebebasan, termasuk kebebasan dalam berpikir. Jika terdapat pihak yang tidak sepakat dengan pemikiran seorang penulis dalam sebuah buku seharusnya dijawab melalui buku juga.

"Misal akhir-akhir ini ada sweeping buku. Kita sebagai negeri yang bebas jangan kita biarkan orang melarang orang untuk berpikir. Meski buku itu tidak kita suka, ya kita jawab dengan buku lagi. Misalnya buku Romo Magnis," kata Jimly.

Jimly bercerita, saat menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) pernah mengisi kuliah umum di Moskow, Rusia. Saat itu, Jimly mengaku heran lantaran masih adanya patung palu arit yang merupakan simbol komunisme. Menjawab keheranan Jimly, seorang rektor di Moskow menyatakan patung tersebut merupakan produk sejarah.

"Begitu dijelaskan saya malu sendiri. Itulah tingkat peradaban yang sudah maju. Coba di kita. Masih terganggu dengan baju palu arit, masih terganggu dengan bendera tauhid. Jadi ini menggambarkan tingkat peradaban kehidupan kebangsaan kita masih rendah," ungkapnya.

Untuk itu, Jimly mengajak seluruh elemen bangsa untuk merawat dan mengisi kemerdekaan Indonesia dengan usaha memajukan bangsa. Jimly meyakini dengan seluruh elemen bangsa yang bahu membahu, peradaban Indonesia akan semakin maju dan berkembang.

"Sehingga sesuai jumlah penduduk, kita nomor 4 dunia maka peradaban Indonesia akan jadi peradaban bangsa keempat terbesar pada waktunya nanti," harapnya.

 



Sumber: Suara Pembaruan