Kota Lama Semarang Harus Dikemas Jadi Wisata Sejarah Eksotik yang Gaul

Kota Lama Semarang Harus Dikemas Jadi Wisata Sejarah Eksotik yang Gaul
Gubernur Ganjar Pranowo menerima Panitia Festival Kota Lama Semarang dalam rangka pemaparan rencana kegiatan Festival Kota Lama 2019, Senin, 12 Agustus 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Stefi Thenu )
Stefi Thenu / JAS Senin, 12 Agustus 2019 | 21:13 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Pengelolaan Kota Lama Semarang, yang sekarang mulai tertata dan dikembangkan, harus diorientasikan sebagai ekspresi eksotisitas sejarah yang dikemas secara gaul dan menjadi "jalan seni".

"Kuncinya, hanya satu, kesungguhan menjadikannya sebagai kawasan wisata konservasi unggulan dengan segala detail pernak-perniknya," ujar Ganjar Pranowo, saat menerima Panitia Festival Kota Lama di Puri Gedeh, Senin (12/8/2019).

Menurut Ganjar, dari sisi fasilitas dan perawatan, pengunjung harus diajak menjadi nyaman dan menikmati. Sementara itu, warga Semarang didorong menangguk manfaat kesejahteraan, dan pemerintah kota menyerap maksimal pendapatan asli daerah.

Ganjar membayangkan, kawasan Kota Lama benar-benar menjadi "kota lama" yang nyaman dan mengesankan. Hanya sepeda yang diizinkan menjadi transportasi untuk berlalu lalang dari satu titik ke titik yang lain. Kendaraan bermotor harus parkir di tempat yang khusus disediakan oleh Pemerintah Kota Semarang.

Dia berharap dapat mengubah Kawasan Kota Lama Semarang menjadi seperti Kota Lama Arbat di Moskow, Rusia.

Arbat, dengan bangunan gedung-gedung lama yang eksotik, juga setting sejarah di sepanjang jalan dan lingkungannya, menjadi cermin keberhasilan manajemen kota untuk dijadikan ikon yang menjual, mendatangkan kesejahteraan bagi warga dan barang tentu pendapatan bagi pemerintah kota. Arbat pun menjadi titik yang "wajib" dikunjungi wisatawan ke Rusia.

"Belajar dari Rusia, Kota Lama akan lebih cantik ketika semua bebas dari kendaraan, gedung-gedung hidup. Menjadi tempat kreativitas. Zona car free day setiap hari. Parkiran disiapkan. Polusi dihilangkan," katanya.

Dalam kunjungannya, Ganjar juga mengaku terpukau dengan sungai yang mengelilingi kota tua di sana. Di salah satu sudut, Ganjar pun melihat ada jembatan kecil yang bisa dibuka-tutup. Ganjar pun mengusulkan Jembatan Berok bisa dibuka tutup kembali seperti dahulu dan Kali Semarang bisa dilalui perahu-perahu untuk berwisata di Kawasan Kota Lama.

"Festival Kota Lama yang akan berlangsung 12-22 September 2019 saya kira sudah oke, tinggal jalan dan menjadi pemantik Kota Lama lebih berkembang. Namun saya minta juga menggandeng mitra lokal, termasuk artis lokalnya. Tambah lagi seni digital, video mapping, itu akan membuat suasana lebih baru," tandasnya.

Ketua Panitia Festival Kota Lama 2019 Yeru Salimianto didampingi Managing Director FKL Damar Hatmadi menjelaskan, kegiatan yang akan berlangsung di Eks Marabunta, Gedung Marabunta, Taman Kota Lama dengan Pasar Sentilin, pameran, dance festival, street art, musik, parade, workshop, jelajah Kota Lama dengan tema besar Kuno Kini Nanti.



Sumber: Suara Pembaruan