2020, SMA/SMK di Jateng Gratis untuk Siswa Miskin

2020, SMA/SMK di Jateng Gratis untuk Siswa Miskin
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ( Foto: Antara/Andika Wahyu )
Stefy Tenu / EAS Rabu, 14 Agustus 2019 | 16:10 WIB

Semarang, Beritasatu.com - 2020, anak miskin di Jawa Tengah (Jateng) akan mendapatkan sekolah gratis. Sekolah gratis rencananya baru untuk siswa SMA/SMK.

Tidak hanya sekolah gratis, bahkan mulai tahun depan, Pemprov Jateng akan meningkatkan anggaran pendidikan hingga di atas Rp 1 triliun, salah satunya untuk menopang biaya sekolah bagi siswa miskin.

"Sekarang sedang dibahas anggarannya, mudah-mudahan lancar. Kami ingin menjamin mereka yang benar-benar miskin. Kami pastikan sekolahnya gratis," kata Ganjar, usai menggelar dialog bersama Ombudsman di kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Rabu (14/8/2019).

Ganjar mengatakan saat ini pihaknya sedang mempersiapkan program sekolah gratis itu. Program sekolah gratis tersebut akan dimulai pada tahun 2020. 

Sementara saat ditanyakan bahwa upaya menggratiskan sekolah untuk siswa miskin lebih dulu dilakukan Jawa Timur dan Jawa Barat, Ganjar menanggapi santai. Menurutnya, prioritas sekolah gratis di Jateng memang hanya untuk siswa miskin. Siswa yang orang tuanya kaya, tidak perlu digratiskan karena mereka mampu membayar.

"Wong mampu kok dibantu, opo ora malah kleru (orang mampu kok dibantu, apa tidak salah)? Kami prioritaskan untuk siswa miskin terlebih dahulu," ujarnya.

Menurut Ganjar, upaya Jateng memperbaiki kualitas pendidikan pun tidak hanya fokus pada siswa, tetapi juga tenaga pendidikan.

"Jatim dan Jabar itu guru honorernya belum upah minimum kabupaten (UMK) lho gajinya. Jateng honorer SMA dan SMK sudah semuanya UMK. Jadi not bad lah," ungkapnya.

Selain untuk menggratiskan biaya sekolah siswa miskin, penambahan anggaran pendidikan juga untuk mendukung program pemerintah memfavoritkan semua sekolah.

Anggaran itu akan digunakan untuk menambah sarana prasarana sekolah-sekolah pinggiran agar setara dengan sekolah perkotaan.

"Jadi kalau pak Mendikbud bilang tidak boleh ada sekolah favorit, maka jalan satu-satunya adalah memfavoritkan semua sekolah. Nah anggaran tersebut digunakan untuk itu," terangnya.

Ia mencontohkan, banyak sekolah yang terletak di daerah pingiran masih kekurangan sarana prasarana. Nantinya, semua anak sekolah harus mendapatkan fasilitas yang sama dengan sekolah yang lebih dahulu maju.

"Kalau di sekolah maju ada perpustakaannya, di sekolah pinggiran harus ada. Kalau di sekolah maju bisa mengakses teknologi informasi dengan mudah, ya disana juga harus mendapatkan hal yang sama. Kalau semua sudah berjalan, maka akan lebih mudah dan tidak ada lagi sekat antara sekolah pinggiran dengan perkotaan," tegasnya.



Sumber: BeritaSatu.com