Bowo Sidik Terima Gratifikasi SGD 700.000 dan Rp 600 Juta

Bowo Sidik Terima Gratifikasi SGD 700.000 dan Rp 600 Juta
Bowo Sidik Pangarso. ( Foto: ANTARA FOTO / Indrianto Eko Suwarso )
Fana Suparman / FMB Rabu, 14 Agustus 2019 | 17:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jaksa Penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi mendakwa Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso telah menerima suap dari Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Taufik Agustono dan anak buahnya yang merupakan Manager Marketing PT HTK, Asty Winasty serta menerima suap dari Direktur Utama (Dirut) PT Ardila Insan Sejahtera, Lamidi Jimat. Tak hanya suap, Bowo Sidik juga didakwa menerima sejumlah gratifikasi dengan nilai total SGD 700.000 dan Rp 600 juta. Gratifikasi yang diterima Bowo sejak 2016 hingga 2018 ini terkait PLN hingga Munas Golkar.

"Bahwa penerimaan gratifikasi berupa uang tersebut tidak pernah dilaporkan oleh terdakwa kepada KPK dalam tenggang waktu 30 hari kerja sejak diterima sebagaimana dipersyaratkan dalam undang-undang sehingga sudah seharusnya dianggap sebagai pemberian suap karena berhubungan dengan jabatan terdakwa selaku wakil ketua sekaligus anggota Komisi VI DPR dan selaku anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR," kata Jaksa KPK, Kiki Ahmad Yani saat membacakan surat dakwaan terhadap Bowo Sidik di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Jaksa menyebutkan salah satu gratifikasi itu diterima Bowo Sidik saat mengikuti acara Munas Golkar di Denpasar, Bali untuk pemilihan ketua umum Partai Golkar Periode tahun 2016-2019. Saat itu, Bowo menerima SGD 50.000.

"Pada sekitar tahun 2016, Terdakwa (Bowo Sidik) menerima uang tunai sejumlah SGD 50.000, pada saat Terdakwa mengikuti acara Munas Partai Golkar di Denpasar Bali untuk pemilihan ketua umum Partai Golkar Periode tahun 2016-2019," kata Jaksa KPK.

Jaksa Kiki pun merinci selain penerimaan gratifikasi Bowo Sidik dari Partai Gokar tersebut. Bowo pernah menerima uang sekitar tahun 2016 terkait pengusulan Kabupaten Meranti untuk mendapat Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik. Saat itu, Bowo menerima gratifikasi senilai SGD 250.000 dalam jabatannya sebagai anggota Badan Anggaran DPR

"Terdakwa mengusulkan Kabupaten Kepulauan Meranti mendapatkan DAK fisik APBN 2016," kata Kiki

Kemudian pada bulan Juli 2017, Bowo kembali menerima SGD 200.000 dalam kedudukannya selaku Wakil Ketua Komisi VI DPR RI yang sedang membahas Permendag tentang Gula Rafinasi melalui Pasar Lelang Komoditas. Selanjutnya, pada 22 Agustus 2017 menerima uang sejumlah SGD 200.000 di restoran Angus House Plaza Senayan, Lantai 4, jalan Asia Afrika, Senayan Jakarta, dalam kedudukannya selaku wakil ketua Komisi VI DPR RI yang bermitra dengan PT PLN yang merupakan BUMN.
Terakhir, Bowo Sidik menerima uang Rp 300 juta di Plaza Senayan pada tahun 2018 dan Rp 300 juta di restoran sekitar Cilandak Mall Town Square Jakarta.

"Itu dalam kedudukan terdakwa selaku wakil ketua Komisi VI DPR RI yang sedang membahas program pengembangan pasar untuk tahun anggaran 2017," papar Kiki.



Sumber: Suara Pembaruan