Empat Tokoh Inspiratif Raih Penghargaan Achmad Bakrie XVII

Empat Tokoh Inspiratif Raih Penghargaan Achmad Bakrie XVII
Konferensi Pers Penghargaan Achmad Bakrie XVII/2019, di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (14/8/2019) malam. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 15 Agustus 2019 | 09:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Yayasan Achmad Bakrie bekerja sama dengan Freedom Institute dan Bakrie Group kembali mempersembahkan Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) XVII/2019 untuk Negeri. Acara ini, digelar dalam menyambut 74 tahun Kemerdekaan Indonesia, sekaligus sebagai rangkaian meperingati 77 tahun Kelompok Usaha Bakrie.

Ketua Penyelenggara PAB XVII, Ardiansyah Bakrie, mengatakan, Penghargaan Achmad Bakrie merupakan tradisi penganugerahan kepada para tokoh inspirasional yang telah berjasa bagi kehidupan bangsa Indonesia.

"Tokoh-tokoh yang dipilih adalah insan-insan terbaik dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, serta mereka yang telah membaktikan hidupnya di bidang kemanusiaan. Selama kurun waktu tujuh belas tahun berturut-turut, Penghargaan Achmad Bakrie telah diberikan kepada 76 penerima yang terdiri dari 72 individu dan 4 lembaga," ujar Ardiansyah Bakrie, dalam jumpa pers di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (14/8/2019) malam.

Ardiansyah Bakrie menambahkan, tahun ini adalah tahun ke-17 Yayasan Achmad Bakrie memberikan Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) kepada anak bangsa yang telah menuangkan pikirannya dalam menghasilkan karya inspiratif yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

"Semoga, penghargaan ini juga mampu memotivasi anak-anak bangsa untuk terus berjuang menghasilkan karya-karya terbaik mereka bagi masyarakat," pungkas Ardiansyah Bakrie.

Adapun empat tokoh yang menerima Penghargaan Achmad Bakrie XVII yakni:

Jakob Oetama (Jurnalisme)

Kecerdikan visionernya membangun jurnalisme kepiting yang memungkinkan Kompas bertahan sebagai bagian pilar demokrasi yang keempat di tengah iklim politik yang otoriter, sekaligus kelompok usaha yang dinamis di tengah situasi ekonomi yang tak menentu.

Ashadi Siregar (Sastra Populer)

Lewat trilogi Cintaku di Kampus Biru (1974), Kugapai Cintamu (1974), dan Terminal Cinta Terakhir (1975), Ashadi berhasil membuka babak baru penulisan novel populer di negeri ini. Temanya memang lazim dalam genre sastra pop, dunia anak muda dan mahasiswa yang diwarnai liku-liku percintaan, pendobrakan, dan pencarian diri. Namun, semua itu dituturkan Ashadi dengan bahasa yang segar-lugas, dengan pandangan yang lebih terpelajar.

Anna Alisjahbana (Kedokteran)

Dedikasinya memperbaiki kualitas anak Indonesia secara holistik dan integratif, antara lain mengilhami pengembangan perangkat inovatif dan tepat guna DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kembang). Temuannya ini, bertujuan menjaring anak dengan gangguan perkembangan pada masyarakat rentan dan kurang mampu, yang diterapkan pada Taman Posyandu, PAUD dan pendidikan keluarga, untuk mempersempit kesenjangan anak desa-kota.

Anawati (Sains)

Rela meninggalkan gemerlap karir dan gemerincing mata uang Euro karena melihat kualitas air minum perdesaan di Sumbawa hampir sebagiannya terkontaminasi logam berat. Risetnya tentang Tubular Anodic Aluminium Oxide (AAO) dan gagasannya memanfaatkan teknologi pelapis bahan lokal, telah membantu masyarakat Sumbawa.



Sumber: BeritaSatu.com