Penetapan Hasil Pileg Mamberamo Tengah, Berius Kogoya: Sangat Melukai Perasaan Rakyat

Penetapan Hasil Pileg Mamberamo Tengah, Berius Kogoya: Sangat Melukai Perasaan Rakyat
Rapat pleno penetapan perolehan kursi dan calon terpilih anggota DPRD Kabupaten Mamberamo Tengah, Pemilihan Umum 2019 dilaksanakan Hotel Horison, Jayapura, Papua, Rabu, 14 Maret 2019. Rapat pleno tersebut dikawal ketat oleh aparat kepolisian. ( Foto: Istimewa )
Jeis Montesori / JEM Kamis, 15 Agustus 2019 | 12:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua, terpaksa menggelar rapat pleno penetapan perolehan kursi dan calon terpilih anggota DPRD Kabupaten Mamberamo Tengah hasil Pemilu 2019 di Hotel Horison, Jayapura, Papua. Rapat pleno tak dilaksanakan di pusat kantor KPU Mamberamo Tengah di Kabagma, diduga karena bakal munculnya perlawanan sebagian masyarakat yang menolak hasil pemilu di daerah itu yang dinilai banyak kecurangan.

Menurut Ketua DPRD Mamberamo Tengah Berius Kogoya kepada Suara Pembaruan, Kamis (15/8/2019), seharusnya rapat pleno di gelar di Kabagma, Mamberamo Tengah, karena kantor KPU Mamberamo Tengah berada di Kabagma.

“Tuntutan masyarakat (Mamberamo Tengah) rapat pleno harus dilaksanakan di Kabagma sehingga mereka bisa mengikuti langsung proses keputusan penetapan hasil Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 di Mamberamo Tengah,” kata Berius Kogoya.

Menurut Berius Kogoya, rapat pleno KPU Mamberamo Tengah di Jayapura, dikawal ketat aparat kepolisian berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIT, Rabu (14/8/2019).

“Semestinya pleno berlangsung bebas dan bisa dihadiri oleh para caleg yang ikut serta dalam pemilu. Tapi yang terjadi rapat pleno KPU Mamberamo Tengah berlangsung tertutup dan hanya boleh dihadiri oleh ketua partai dan sekretaris partai,” jekas Berius Kogoya.

Berius Kogoya juga mengaku mendapatkan informasi bahwa dalam rapat pleno tersebut, jika yang bertanya nadanya emosi, langsung digiring pihak keamanan di bawa keluar hotel dan tidak diizinkan lagi mengikuti rapat pleno.

Berius Kogoya sendiri merupakan caleg dari Partai Demokrat yang mengaku telah dirugikan dari hasil Pileg 2019 di Mamberamo Tengah pada 17 April 2019 lalu. Berius Kogoya menyatakan, perolehan suaranya paling tinggi namun saat penghitungan di tingkat KPU Mamberamo Tengah, suaranya tiba-tiba berkurang signifikan sehingga ia tak lolos menjadi anggota DPRD.
Hal yang sama juga dialimi caleg Mendika Soa, caleg PDI Perjuangan yang gagal tembus ke DPRD Mamberamo Tengah karena suaranya dimanipulasi.

Untuk mendapatkan keadilan hukum, Berius Kogoya dan Mendika Soa mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), namun gugatan mereka ditolak oleh lembaga yang berwenang mengurus perselihan hasil pemilihan umum tersebut.

Berius Kogoya mengatakan, pemaksaan pelaksaan pleno di luar Kabakma, Ibukota Mamberamo Tengah, telah telah melukai perasaan masyarakat Mamberamo Tengah.

Karena itu, meski gugatannya telah ditolak, namun Berius Kogoya masih sangat berharap ada keadilan yang bisa dia dapatkan. “Bagaimanapun sebagai kader partai, saya tetap menunggu keputusan dari Partai Demokrat. Sekalipun sudah pleno akan tetapi Partai Demokrat punya hak untuk melakukan perubahan berdasarkan data dan bukti-bukti fakta yang ada, baik dalam persidangan MK, bukti-bukti di lapangan di mana saya sesungguhnya pemenang tetapi digeserkan oleh upaya intevensi dari penguasa setempat dan itu sudah diakui oleh ketua KPU Mamberamo Tengah,” jelas Berius Kogoya.

Menurutnya, berdasarkan bukti tersebut Partai Demokrat bisa mengakomodasi atau mempertimbangkan kembali untuk melakukan kebijakan lain dalam bentuk pengganti antar waktu (PAW), dan atau jalan keluar lain sesuai kebijakan partai.

Untuk hal ini, kata Berius Kogoya, sangat tergantung dari pimpinan Partai Demokrat dalam hal ini Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Saat ini saya sedang menunggu ada kebijakan dari Pak SBY, karena saya yakin beliau punya nurani untuk melihat situasi daerah khususnya permasalahan internal partai atas penyingkiran kader sendiri dan membiarkan pihak lain menjadi anggota legislatif,” kata Berius Kogoya.



Sumber: Suara Pembaruan