Terjaring OTT Polda Sumut, Kepala Puskesmas Parlayuan Tersangka

Terjaring OTT Polda Sumut, Kepala Puskesmas Parlayuan Tersangka
Polda Sumatera Utara bekerja sama dengan Polres Labuhan Batu, menyita sejumlah uang dan dokumen terkait dugaan kasus korupsi saat operasi tangkap tangan (OTT) di Puskesmas Parlayuan, Kabupaten Labuhan Batu, Selasa,13 Agustus 2019. Tujuh orang berhasil ditangkap dalam OTT tersebut. ( Foto: Istimewa )
Arnold H Sianturi / JEM Jumat, 16 Agustus 2019 | 14:49 WIB

Medan, Beritasatu.com - Polres Labuhan Batu, Kamis(15/8/2019), menetapkan MJH, yang merupakan Kepala Puskesmas Parlayuan, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhan Batu, dalam kasus pemotongan dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Bantuan Operasional Kesehatan (OBK) di daerah itu. MJH dijaring dalam operasi tangkap tangan (OTT)Polda Sumatera Utara (Sumut), Selasa (13/8/2019).

"Kepala puskesmas sudah ditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus pemotongan dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Bantuan Operasional kesehatan (OBK)," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Labuhan Batu, AKP Jamakita Purba, Kamis.

Dikatakan, aparat penyidik juga masih mengembangkan kasus itu terkait kemungkinan ada nama lain yang terlibat.

Dalam OTT Polda Sumut bekerja sama dengan Polres Labuhan Batu itu, berhasil dijaring 7 orang di Puskesmas Parlayuan dan langsung diboyong ke kantor polisi. Petugas juga mengamankan uang tuna Rp 188.315 dan sejumlah dokumen terkait kasus pemotongan honor pegawai maupun staf di puskesmas.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja menyampaikan, tujuh orang yang diamankan itu adalah Kepala Puskesmas Parlayuan berinisial MHJ (41), HM (45) selaku bendahara BOK Puskesmas Parlayuan, SUB (33) sebagai bendahara JKN Puskesmas Parlayuan, kemudian tiga staf puskesmas SD (40), NH (42), NIR (33), serta AFN (26) tenaga kerja sukarela di Puskesmas Parlayuan.

"Mereka yang diamankan itu masih menjalani proses pemeriksaan oleh penyidik. Pemeriksaan untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut. Pemotongan honor itu bervariasi karena tergantung dengan uang yang diterima. 

 



Sumber: Suara Pembaruan