Demo Mahasiswa Papua di Kota Malang Berakhir Ricuh

Demo Mahasiswa Papua di Kota Malang Berakhir Ricuh
Ilustrasi unjuk rasa. ( Foto: Antara )
Aries Sudiono / JEM Jumat, 16 Agustus 2019 | 15:02 WIB

Malang, Beritasatu.com - Aksi demo puluhan mahasiswa asal Papua yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menuntut Papua Merdeka dengan menutup akses Jalan Basuki Rahmat di jantung Kota Malang, berakhir ricuh pada Kamis (15/8/2019).

Para mahasiswa peserta aksi terlibat bentrok dengan warga masyarakat pengguna jalan karena mereka melempari motor dan mobil warga yang lewat dengan batu. Karenanya, sempat terjadi saling serang lempar batu dan baku hantam sehingga beberapa orang terluka. Bahkan aparat kepolisian yang ikut menangani juga terluka.

Sejumlah pemilik toko di sepanjang jalan arteri itu buru-buru menutup tokonya dan memilih bersembunyi ketika melihatnya  kelompok Aremania yang hendak menonton pertandingan sepakbola di Stadion Kenjuruhan, Kabupaten Malang melewati wilayah itu.

Bentrok mahasiswa dan warga yang merasa terganggu aktivitasnya itu berlangsung cukup sengit. Beruntung sejumlah aparat kepolisian cepat datang dan berusaha melerai walaupun itu memakan waktu lama. Massa mahasiswa Papua yang berkumpul di jalan poros tengah kota yang semula menolak dibubakan Polisi, baru bersedia dievakuasi naik ke truk Sabhara Polres Malang Kota setelah ratusan barisan konvoi Aremania yang mengenakan atribut biru-biru yang hendak berangkat menonton laga Arema versus Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, datang. Massa mahasiswa langsung membubarkan diri naik ke truk personel Sabhara Polres Malang Kot. Sementara beberapa orang mahasiswa dan warga yang terluka dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang yang berada di depan Markas Polres Malang Kota.

“Dari catatan kami, aksi ilegal demonstrasi tanpa pemberitahuan ini sudah yang kedua kalinya. Beberapa tahun lalu sejumlah mahasiswa juga menggelar aksi demo ilegal di kawasan Dinoyo yang memicu warga membubarkannya karena mengganggu aktivitas warga,” ujar Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri, Kamis sore.

Menurut dia, keributan antara mahasiswa peserta aksi dan warga sudah bisa diredam. Namun, Asfuri mengakui ada sejumlah korban akibat keributan itu, baik dari kalangan warga, mahasiswa maupun aparat. “Keributan sudah bisa diredam. Mereka yang terluka juga langsung dibawa ke RSSA untuk pengobatan,” katanya.

Untuk menghindari keributan lebih luas, Asfuri mengatakan telah membubarkan aksi demonstrasi mahasiswa AMP tersebut. Apalagi, demonstrasi tersebut juga menjurus pada disintegrasi bangsa. “Demo ini mengancam persatuan Indonesia. Karena itu kami bubarkan,” katanya.

Ada surat
Dari pengakuan para mahasiswa terungkap, bahwa mereka berkumpul untuk menggelar aksi demo karena ada surat yang mengatasnamakan AMP via WhatsApp (WA) guna menuntut pemerintah Republik Indonesia memberikan kemerdekaan kepada rakyat Papua.

“Kita memang melihat ada surat, tapi saat mereka ditanya perihal isi dan siapa koordinator serta penanggung jawabnya, mereka diam tutup mulut,” tandas Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri.

Salah satu poin tuntutan para mahasiswa yang ada di WA itu menyebutkan bahwa kedaulatan bangsa Papua telah dirampas secara paksa oleh Indonesia melalui Dewan Musyawarah Pelaksanaan (DMP) melalui perjanjian New York atau Newyork Agreement pada 15 Agustus 1962 silam. Mereka menuntut dilakukan referendum kepada rakyat Papua untuk menentukan nasibnya sendiri.Sayangnya dalam surat yang beredar dengan mengatasnamakan AMP tersebut tidak ada koordinatornya.

Massa mengakui sebenarnya mereka hendak menggelar aksi demo di depan Balai Kota Malang dengan titik kumpul Alun-alun Kota Malang. Namun karena ketika mereka memilih menutup akses Jalan Basuki Rahmat, warga setempat dan pengguna jalan menjadi marah karena akitivitas mereka terganggu.



Sumber: Suara Pembaruan