Ganjar Tegaskan Ideologi Negara Tak Bisa Diganti

Ganjar Tegaskan Ideologi Negara Tak Bisa Diganti
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat saat menjadi inspektur upacara Peringatan HUT Kemerdekaan ke-74 RI di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Sabtu (17/8/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Stefy Thenu )
Stefi Thenu / FER Sabtu, 17 Agustus 2019 | 18:13 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, mengatakan, tidak ada alasan apapun untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara. Ideologi negara Pancasila tak bisa diganti sampai kapanpun. Perilaku bangsa Indonesia, sekarang cenderung mudah mencaci, mencerca, dan bahkan ada yang nekad ingin mengganti Pancasila, harus menjadi bahan renungan.

"Semestinya, setelah masa perjuangan kemerdekaan, tidak ada lagi yang membedakan suku, agama ataupun ras. Sebab, semua sama di mata negara," kata Ganjar Pranowo, saat menjadi inspektur upacara Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan ke-74 RI di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Sabtu (17/8/2019).

Ganjar menegaskan, bagaimana para founding fathers memberi contoh persatuan lewat laku dan tidak hanya digembar-gemborkan.

"Siapa yang mempermasalahkan Agustinus Adisucipto sebagai pahlawan? Apakah karena beliau seorang Katolik, lantas yang dari Hindu, Budha, Islam, Kristen dan Kong Hu Chu menggerutu? Kemudian Albertus Soegijapranata. Beliau merupakan uskup pribumi perta di Indonesia. Bahkan karena nasionalismenya keras, beliau tidak henti-hentinya mengagungkan semboyan '100 persen Katolik, 100 persen Indonesia, dan ungkapan itu terus berdengung hingga kini,” kata Ganjar.

Ganjar juga menunjuk pahlawan nasional beragama Budha, dari Banyumas, Letjen Gatot Subroto. Juga tidak kalah penting perannya dalam perjuangan saudara-saudara kita dari Tionghoa.

"Ada Yap Tjwan Bing lahir pada 31 Oktober 1910 di Solo. Beliau merupakan satu-satunya anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dari Tionghoa dan turut hadir dalam pengesahan UUD 1945 dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 18 Agustus 1945," tuturnya.

Ada pula Liem Koen Hian merupakan salah satu anggota dari Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bahkan jadi salah satu inspirator Bung Karno ketika pidato di majelis BPUPKI tentang berdirinya negara yang tanpa berasaskan ras maupun agama.

"Kita pun patut berterima kasih pada tokoh keturunan Arab, Faradj bin Said bin Awak Martak. Pedagang kelahiran Yaman Selatan ini dengan berani menyediakan rumahnya di Pegangsaan Timur No 56 sebagai lokasi proklamasi kemerdekaan RI. Lantas siapa yang mempermasalahkan kepahlawanannya I Gusti Ngurah Rai, Untung Suropati, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy'ari karena agamanya," tegas ganjar.

Menurut Ganjar, bibit jiwa Indonesia adalah tepo sliro (tenggang rasa), andarbeni (ikut merasa memiliki), dan paseduluran (persaudaraan). "Pancasila sebagai dasar Republik adalah harga mati. Tidak bisa ditawar dan harus kita tanam sedalam-dalamnya di Bumi Pertiwi. Pancasila inilah sebagai induk semangnya negara ini, yang di dalamnya bersemayam ajaran-ajaran agama: Hindu, Budha, Islam, Katolik, Kong Hu Chu dan Kristen. Yang di dalamnya bersemayam spirit-spirit berasaskan kebudayaan Nusantara," tandasnya.

Menurut Ganjar, kalaulah sistem pemerintahannya pernah berubah, akhirnya jiwa-jiwa yang telah menyatu dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote tidak bisa dipisahkan.

Sejarah mencatat, setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 sistem pemerintahan sempat berganti menjadi Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949. Namun akhirnya sejak 17 Agustus 1950 Tanah Air ini kembali tegak berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Sampai kapan? Seperti ungkapan Bung Karno, 'Di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara ndonesia yang kekal dan abadi. Bung Karno mengatakan, 'Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong-royong. Gotong-royong adalah pembantingan - tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantubinantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama!” paparnya.

Tekad kebersamaan, senasib sepenanggungan inilah, menurut Ganjar, yang terus kita emban untuk menghadapi zaman. Sejak dilahirkan Indonesia mendapat berbagai tantangan dan persoalan berat, mulai dari seringnya bencana alam, korupsi, konflik sosial, gerakan separatisme dan
radikalisme.

"Belum lagi tantangan modernisasi yang bergerak seiring dentang jam. Jangan lagi ada niatan mengganti ideologi bangsa," tutup Ganjar.



Sumber: Suara Pembaruan