Soal Ceramah UAS, PSI: Nabi Muhammad SAW Teladan dalam Praktik Toleransi

Soal Ceramah UAS, PSI: Nabi Muhammad SAW Teladan dalam Praktik Toleransi
Ustaz Abdul Somad. ( Foto: Profil Dan Biodata Ustadz )
Yustinus Paat / WM Minggu, 18 Agustus 2019 | 20:36 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyesalkan Ustaz Abdul Somad (UAS) terkait pernyataan tentang salib dan patung di video yang viral dalam beberapa hari terakhir. PSI menilai, UAS tidak layak melontarkan pernyataan demikian karena bisa menimbulkan ketegangan hubungan antara umat beragama.

“Ucapan tersebut tidak selayaknya dilontarkan. Hanya menimbulkan ketegangan hubungan di antara umat beragama. Kami mengharapkan mempertimbangkan dengan baik semua hal yang disampaikan. Jangan sampai memicu konflik di masyarakat,” kata Juru Bicara PSI, Azmi Abubakar, dalam keterangan pers, Minggu (18/8/2019).

Padahal, kata Azmi, pembelaaan atas penghargaan terhadap Kristen diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW yang berjanji melindungi jiwa, agama, dan harta benda kaum Kristen di Najran dan sekitarnya pada tahun 631-632 Masehi.

“Nabi Muhammad memerintahkan agar kepercayaan kaum Kristen tidak boleh diganggu, kebiasaannya tidak boleh disinggung, hak dan kewajibannya tidak boleh diubah. Pendeta dan guru agamanya tidak boleh dipecat, besar-kecil semua mereka harus merasakan keamanan hidup, sebagaimana di zaman sebelum beliau,” jelas Azmi.

Mengutip buku “Toleransi Nabi Muhammad dan Sahabat-sahabatnya” karya Tengku Haji Aboebakar Atjeh, Azmi menegaskan, pada masa Nabi Muhammad memegang kendali pemerintahan, patung dan salib tidak boleh dirusak, kaum Kristen tidak boleh menindas dan tidak boleh ditindas, mereka tidak boleh membalas dendam seperti zaman jahiliyah, bea persepuluhan tidak ditarik, dan mereka tidak diwajibkan memberi makanan kepada tentara Islam dan lain-lain.

Azmi kemudian menuturkan, sebuah cerita tentang beberapa pendeta Kristen datang kepada Nabi Muhammad, hendak berbicara soal agama. Orang-orang Islam yang terkenal ramahnya, menempatkan mereka di rumah-rumah dan juga di dalam masjid.

Tamu-tamu itu menumpang di sana beberapa hari sampai tiba hari Minggu. Bagi orang Islam, seluruh bumi Allah adalah mesjid dan musala, tetapi tamu-tamu Kristen itu harus ke Gereja.

“Di sekeliling tempat mereka menumpang itu tidak ada gereja. Di dalam kesukaran itu, Rasulullah mempersilakan mereka untuk menggunakan mesjid beliau sendiri sebagai tempat beribadah. Tidakkah ini menjadi teladan bagi kita?” ungkap Azmi.

Azmi menyatakan, Indonesia adalah Tanah Air yang keberadaannya diperjuangkan oleh para pemeluk agama dan pemeluk kepercayaan yang beragam.

“Karena itu harus menjadikan toleransi sebagai suatu solusi. Nabi Muhammad telah mengajarkan dan ketika ada yang menentangnya, berarti mereka itu pengikut siapa?," pungkas Azm



Sumber: BeritaSatu.com