Pindahkan Chuck ke LP Cipinang, Kuasa Hukum Protes

Pindahkan Chuck ke LP Cipinang, Kuasa Hukum Protes
Jaksa Agung, HM Prasetyo. ( Foto: Ismewa )
Siprianus Edi Hardum / EHD Senin, 19 Agustus 2019 | 08:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jaksa Agung, HM Prasetyo dan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus), Adi Toegarisman dituduh telah memanipulasi pelaksanaan perintah Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, dengan menempatkan Chuck Suryosumpeno (jaksa senior) pada rumah tahanan (rutan) yang berbeda dengan amanat penetapan hakim Pengadilan Tinggi.

Jaksa Agung, Jampidsus dan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan juga telah melakukan contempt of court dengan menerbitkan Surat Perintah Nomor PRINT-367/M.1.14/Ft.1/07/2019 untuk menugaskan 14 Jaksa untuk memindahkan Chuck dari Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung ke Rutan Cipinang.

“Pak Chuck seharusnya di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung sebagaimana perintah Pengadilan Tinggi. Namun ditempatkan di Rutan Cipinang tanpa didasarkan selembar syarat administrasi apa pun. Ini jelas pelanggaran administrasi keadilan,” kata kuasa hukum Chuck, Haris Azhar, Senin (19/8/2019).

Tindakan pejabat kejaksaan tersebut sebagai abused of power mengingat status Chuck sebagai tahanan Pengadilan bukan tahanan jaksa lagi. Haris menambahkan hal itu semakin membuktikan kasus yang dialami Chuck adalah kriminalisasi dan rekayasa yang diotaki Jaksa Agung dan Jampidsus.

Tak hanya itu, Haris meminta Ombudsman RI (ORI) turun tangan menyelidiki kejanggalan kasus yang dialami Chuck Suryosumpeno. Sejumlah peristiwa selama kasus ini bergulir secara terang-terangan memperlihatkan adanya maladministrasi. "Maka kami minta Ombudsman untuk turun tangan melakukan pemeriksaan terhadap apa yang terjadi,” pungkas dia.

Sebelumnya diketahui, Chuck pernah membuat kejaksaan berhasil berkontribusi menyelamatkan aset negara sebesar Rp 3,5 triliun hanya dalam kurun waktu 2 tahun. Bahkan, mantan Kepala Pusat Pemulihan Aset Kejaksaan itu memiliki formula untuk mengoptimalkan pemulihan aset dengan melepaskan kerugian negara sebesar Rp 10 triliun pada 2015.

Sayangnya, janji Chuck itu pun kandas lantaran diduga dikriminalisasi pimpinannya, karena tidak mau diajak bekerja sama dengan oknum pimpinan kejaksaan yang ingin bermain aset sitaan dan barang rampasan di institusi korps Adhyaksa tersebut.

Chuck kemudian malah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan tindak pidana korupsi melakukan upaya sita dan melelang aset tanpa prosedur yang benar, saat dirinya menduduki jabatan tersebut.

Kejaksaan Agung menetapkan tiga orang tersangka lain dalam kasus ini, yakni mantan jaksa bernama Ngalimun, Albertus Sugeng Mulyanto selaku pihak swasta, dan Zainal Abidin selaku notaris.

 



Sumber: BeritaSatu.com