Lomba Artikel Kebangsaan PWI

Denny JA: Ramaikan Ruang Publik dengan Gagasan dan Ide

Denny JA: Ramaikan Ruang Publik dengan Gagasan dan Ide
Ilustrasi NKRI. ( Foto: Antara )
/ YS Senin, 19 Agustus 2019 | 09:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Masyarakat dinilai perlu mengisi ruang publik dengan perdebatan gagasan, aneka ide, lontaran pikiran. Sebab, jika tidak, ruang publik akan lebih banyak diisi hoax atau kabar bohong dan berita korupsi.

Hal itu disampaikan konsultan politik Denny JA yang dimintai pendapat soal pengumuman pemenang lomba tulisan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Senin (19/8/2019). Dalam lomba itu, tulisan Denny JA bertajuk “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi” dijadikan bahan yang ditangapi peserta.

Denny mengakui, isu yang ia angkat memang penting untuk dieksplorasi.

“Indonesia kini masih di simpang jalan akan menuju ke mana? Saya mengusulkan, justru dengan menggunakan Islamicity Index, sebaiknya Indonesia menempuh jalan demokrasi dan hak asasi manusia. Itulah pangkal polemik,” kata dia.

Denny meyakini, Indonesia harus menjadi negara mayoritas Muslim pertama yang sukses sebagai negara demokrasi yang terkonsolidasi.

Sebelumnya, PWI mengumumkan Juara Penulisan Artikel Kebangsaan dalam Rangka HUT Ke-74 Kemerdekaan RI. Tulisan karya wartawan Republika, Selamat Ginting dan Wakil Rektor I IAILM Pesantren Suryalaya Tasikmalaya Asep Salahudin, menjadi juara lomba penulisan artikel kebangsaan yang diselenggarakan PWI bersama Inspirasi.co.

Tulisan Ginting berjudul Kehadiran Pancasila Sebagai Sebuah Ideologi Bagi Bangsa Indonesia Adalah Rahmat Dari Tuhan, terbit di Republika Edisi 12 Mei 2019.

Sedangkan Asep Salahudin menulis dua artikel berjudul Trajektori Politik Kebangsaan yang dimuat di Koran Kompas dan NKRI Bersyariah dan Politik Kewargaan, yang dimuat di Media Indonesia.

Dua artikel itu meraih nilai tertinggi dan dewan juri memutuskan satu artikel yakni NKRI Bersyariah dan Politik Kewargaan yang meraih juara pertama.

Lomba penulisan semula berlangsung 1 Januari-15 Februari 2019 tetapi kemudian diperpanjang hingga akhir Juli 2019.

Dewan jurinya, Ketua Umum PWI Atal S Depari, pakar komunikasi Rully Nasrulah, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) M Cholil Nafis, Wakil Sekjen PWI Suprapto, dan wartawan senior Nurcholis MA Basyari. Dewan juri sepakat memilih 10 artikel dari kategori wartawan dan 10 artikel dari kategori umum sebagai pemenang penulisan artikel kebangsaan.

“Ke depan, PWI akan terus mengampanyekan semangat kebangsaan melalui berbagai tulisan demi kemajuan Indonesia. Lomba penulisan ini adalah bagian dari upaya PWI dalam merawat semangat kebangsaan,” ujar Atal.

Lomba penulisan artikel yang diikuti peserta dari berbagai kalangan itu adalah bagian dari upaya PWI untuk menjadi wadah dalam mengembangkan diskusi ilmiah melalui karya tulis. Lomba-lomba seperti ini diharapkan mampu melahirkan wartawan maupun penulis-penulis hebat yang karyanya bisa menjadi rujukan para pengambil keputusan di negeri ini.

Berdasarkan data di panitia lomba, jumlah naskah yang masuk 188 artikel yang berasal dari kelompok atau kategori wartawan dan kategori umum. Para penulis itu berasal dari berbagai kalangan, seperti dosen, pengurus organisasi kepemudaan, aktivis sosial, guru, masyarakat biasa, pengurus organisasi keagamaan, masyarakat biasa, penulis lepas, dan wartawan.

Lomba penulisan artikel kebangsaan dibagi dalam dua kategori yaitu kategori wartawan dan kategori umum. Baik artikel yang ditulis oleh wartawan maupun masyarakat biasa, tetap wajib dipublikasikan, baik melalui media arus utama atau media berbasis jurnalistik, maupun media non jurnalistik atau media sosial.



Sumber: SP/PR