Eva Bande: Terjadi Ekspansi Ilegal Perkebunan Kelapa Sawit di Suaka Margasatwa Bangkiriang

Eva Bande: Terjadi Ekspansi Ilegal Perkebunan Kelapa Sawit di Suaka Margasatwa Bangkiriang
Eva Bande ( Foto: Istimewa )
Jeis Montesori / JEM Senin, 19 Agustus 2019 | 14:45 WIB

Morowali, Beritasatu.com - Kawasan konservasi alam adalah aset nasional yang wajib dilindungi, dilestarikan, dan dipertahankan fungsi maupun keadaannya. Suaka dan perlindungan jangka panjang adalah upaya strategis negara untuk menjamin keberlanjutannya.

Hal itu aktivis agraria Eva Bande kepada Suara Pembaruan, Senin (19/8/2019). Eva Bande mengatakan, ancaman kerusakan terhadap kawasan konservasi alam (KSA) tak mendapat perhatian. Salah satunya, kata dia, terjadi wilayah Kabupate Banggai, Sulawesi Tengah.

“Di Kabupaten Banggai dengan sengaja dan terorganisasi PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS) memperluas perkebunan sawit di dalam kawasan Suaka Margasatwa (SM) Bangkiriang,” sebut Eva Bande.

Padahal, menurut Peraih Yap Thiam Hien Award 2018 itu, kawasan tersebut sangat dilindungi keberadaannya berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Seperti diketahui, kawasan Suaka Margasatwa Bangkiriang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 398/kpts-II/1998 tanggal 21 April 1998 dengan luas 12.500 hektare. Selanjutnya, berdasarkan surat Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah Nomor S.930/IV.BKSDA.K-26/1/2010 tanggal 13 Oktober 2010 dinyatakan bahwa, selain memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna yang cukup tinggi seperti burung maleo dan anoa, juga memiliki tipe ekosistem hutan alluvial dataran rendah, hutan pegunungan, dan hutan sekunder.

Eva menandaskan bahwa telah ditemukan fakta bahwa PT KLS telah mengalihfungsikan seluas 562,08 hektare menjadi perkebunan sawit di dalam kawasan tersebut.

Ironisnya, menurut aktivis perempuan ini, perusahaan diduga mengorganisasi masyarakat secara licik, sehingga terkesan masyarakat yang merambah kawasan Suaka Margasatwa Bangkiriang.
“Modusnya, perusahaan menyediakan modal dan bibit kepada masyarakat, kemudian masyarakat diarahkan untuk mendapat Surat Keterangan Pemilikan Tanah (SKPT),” ungkap Eva Bande.

“Buruknya lagi, di sekitar Suaka Margasatwa Bangkiriang telah berdiri pabrik pengolahan CPO (Crude Palm Oild),” urai Eva Bande lagi.

Keberadaan pabrik tersebut, lanjut Eva Bande, telah mengundang masyarakat untuk membuka lahan baru di dalam kawasan Suaka Margsatwa Bangkiriang, karena akses ke pabrik sangat dekat.

Laporan beberapa LSM di Sulawesi Tengah mengindikasikan tingkat kerusakan kawasan Suaka Margasatwa Bangkiriang. Hasil investigasi Jaringan Tambang (Jatam) Sulteng dan Yayasan Tanah Merdeka (YTM) menunjukkan bahwa kerusakan Suaka Margasatwa Bangkiriang telah mencapai 2.645 hektare (lihat peta).

Eva mengharapkan pelanggaran hukum dari perusahaan yang sudah bertahun-tahun itu harus ditindak. “Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI serta Dirjen KSDAE harus segera mengambil langkah cepat melakukan tindakan hukum kejahatan lingkungan PT KLS,” tegas aktivis reforma agrarian ini.

Eva Bande lantas mengusulkan pemerintah harus merekonstruksi kembali kawasan Suaka Margasatwa Bankiriang dan area sekitarnya menjadi seperti sediakala.

“Serius tidaknya Kementerian LHK dalam penegakan hukum akan diuji dalam kasus ini,” tutup Eva Bande.



Sumber: Suara Pembaruan