Tumbuhan Indonesia Miliki Senyawa Antikanker dan Antimalaria

Tumbuhan Indonesia Miliki Senyawa Antikanker dan Antimalaria
Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nina Artanti, menyampaikan orasi ilmiah pengukuhan profesor riset di Jakarta, Selasa (20/8/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Ari Supriyati Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Selasa, 20 Agustus 2019 | 15:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Banyak senyawa aktif dari sumber daya hayati Indonesia yang berpotensi menjadi obat antikanker dan antimalaria. Namun, belum dimanfaatkan dengan optimal karena sebagian besar bahan baku obat masih dikuasai produk impor.

Untuk menjadi obat atau fitofarmaka butuh proses panjang, dan biaya besar. Kalangan medis juga harus berani menggunakannya untuk meyakinkan dunia industri farmasi sehingga tertarik memproduksi massalkannya.

Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nina Artanti, mengatakan, keanekaragaman hayati Indonesia menduduki urutan kedua di dunia setelah Brazil dan urutan pertama jika biota laut ikut diperhitungkan.

Dari sekitar 30.000 spesies tumbuhan yang ada di Indonesia, diperkirakan 9.600 spesies adalah tumbuhan obat, namun baru sekitar 300 spesies yang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional.

"Lebih dari 8.000 produk telah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan sebagai jamu tetapi baru ada sekitar 60 produk obat herbal terstandar dan 21 produk fitofarmaka," kata Nina  dalam orasi ilmiah pengukuhan profesor riset di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Nina menyebut, walaupun keanekaragaman hayati Indonesia begitu melimpah namun saat ini sebagian besar bahan baku obat Indonesia masih bergantung pada impor. Hampir 90 persen bahan baku yang digunakan di industri farmasi adalah impor. Indonesia mengimpor bahan baku obat dari Tiongkok, India dan kawasan Eropa.

Untuk mendukung Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 17 Tahun 2017 mengenai kemandirian bahan baku obat, sudah seharusnya pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia yang ada di darat dan di laut perlu ditingkatkan.

Penggunaan metode uji bioaktivitas in vitro yang mudah, cepat dan murah dapat menjadi cara strategis untuk percepatan penemuan potensi keanekaragaman hayati Indonesia.

"Uji bioaktivitas ini tahapan penting untuk pembuktian khasiat herbal dalam penemuan dan pengembangan obat. Bioaktivitas itu bisa berupa bioaktivitas antioksidan, antidiabetes, sitotoksik dan antibakteri," tandas Nina.

Masih terkait kekayaan hayati Indonesia, profesor riset Jamilah yang juga peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, mengungkapkan, tumbuhan Calophyllum spp mempunyai potensi sebagai bahan baku obat kanker dan malaria.

"Calophyllum mengandung senyawa santon, kumarin, biflavonoid, benzofenon dan neoflavonoid, triterpen dan steroid," ucap Jamilah.

Menurut Jamilah, senyawa aktif ini fungsi antiinflamasi, antijamur, antihipoglikemia, antitumor, antimalaria, antibakteri dan antiTBC.

"Peluang Calophyllum untuk pengembangan obat antikanker dan antimalaria sebagai pengganti obat impor masih terbuka lebar," tandas Jamilah.

Dalam pengukuhan profesor riset itu, dikukuhkan empat ahli peneliti utama. Dua profesor riset lain yang dikukuhkan yakni Anny Sulaswatty dari Pusat Penelitian Kimia dan Ignasius Dwi Atmana Sutapa dari Pusat Penelitian Limnologi.

Hadir pula dalam pengukuhan profesor riset tersebut Kepala LIPI Laksana Tri Handoko. Dari pengukuhan tersebut, secara berturut-turut, para profesor tersebut menjadi profesor riset ke-131, 132,133 dan 134 dari 1.383 peneliti di LIPI. Sedangkan secara nasional, profesor riset ke-528, 529, 530 dan 531 dari 8.709 peneliti.



Sumber: Suara Pembaruan