Kemko PMK Canangkan Gerakan Selasa Berkebaya

Kemko PMK Canangkan Gerakan Selasa Berkebaya
Sekretaris Kemko PMK, YB Satya Sasanugraha (lima dari kanan) foto bersama Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia usai pencanangan gerakan Kemko PMK Berkebaya di Kantor Kemko PMK, Jakarta, Selasa 20 Agustus 2018. (Foto: Beritasatu Photo / Dok. Humas Kemko PMK)
Dina Manafe / FER Selasa, 20 Agustus 2019 | 15:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan (Kemko PMK) mencanangkan gerakan Kemko PMK Berkebaya, dalam upaya melestarikan kebaya sebagai busana nasional perempuan Indonesia.Gerakan ini ditandai dengan mewajibkan seluruh karyawan perempuan menggunakan kebaya saat ke kantor, khususnya setiap hari Selasa.

Sekretaris Kemko PMK, YB Satya Sasanugraha, mengungkapkan, pihaknya terinspirasi dari gerakan Selasa Berkebaya yang digagas oleh Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia. Sebagai busana warisan leluhur yang memiliki nilai budaya dan sejarah tinggi, sudah seharusnya seluruh komponen bangsa turut melestarikannya. Sebab, sejarah Indonesia melekat pada busana yang sudah dipakai perempuan Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu ini, dan merekam perjalanan budaya di berbagai daerah sampai sekarang.

"Maka selayaknya kita hargai dan kita jaga kelestariannya. Kalau bukan kita, siapa lagi," kata Satya usai pencanangan gerakan Selasa berkebaya tersebut di Kantor Kemko PMK, Selasa (20/8/2019).

Sampai saat ini, lanjut Satya, memang belum ada ketetapan kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Namun pemerintah sudah mengidentifikasi busana yang dipakai perempuan di hampir semua daerah ini sebagai budaya berbusana yang muncul di Indonesia dan diwariskan secara turun temurun.

Gerakan Kemko PMK Berkebaya didasarkan pada himbauan Sekretaris Kemko PMK yang dikeluarkan tanggal 27 Juli 2019. Karyawan perempuan diimbau untuk melestarikan budaya adi luhung dan agung yang dimiliki Indonesia, yakni kebaya. Pemakaiannya dapat dipadu-padankan dengan kain, sarung atau celana panjang, yang penting rapi dan sopan.

Satya berharap, dengan memahami dan memakai kebaya, perempuan Indonesia dapat lebih mengenal warisan budaya yang dimiliki Indonesia. Kedepan, kata dia, kebaya tidak hanya digunakan untuk acara formal, melainkan juga pada kegiatan sehari-hari.

Gerakan berkebaya sendiri dipelopori Komunitas Perempuan Berkebaya melalui berbagai kegiatan. Komunitas yang berdiri sejak 2014 ini berupaya mengajak sebanyak mungkin perempuan memakai kebaya di mana pun mereka berada.

Sambutan positif datang dari banyak pihak sehingga terselenggaralah sejumlah kegiatan bertemakan kebaya, seperti '1000 Perempuan Berkebaya' di Jakarta, '17.000 Perempuan Berkebaya Anti Korupsi' di Pekalongan, 'Perempuan Berkebaya Cerdas Investasi' di Jakarta, Bogor, Yogyakarta dan Banten.

Komunitas ini kemudian berkembang di beberapa daerah dengan sejumlah kegiatan yang intinya mengajak para perempuan mencintai dan mengenakan kebaya. Komunitas di Bogor, misalnya, menyelenggarakan serangkaian peragaan busana bertema Pakaian Peranakan, Pakaian Sunda, dan Pakaian Adat Nusantara yang intinya adalah memperkenalkan berbagai model kebaya.

Sementara, komunitas yang berkembang di Yogyakarta menggelar acara pengenalan pakem kebaya dengan tema Ngadi Saliro Dan Ngadi Busono, kirab kebaya dari Tugu ke Stasiun Tugu, Lomba Puteri Kebaya Cilik, Menari di Festival Lima Gunung Magelang dan lain-lain.

Salah satu pendiri Komunitas Perempuan Berkebaya, Rahmi Hidayati, mengatakan, mereka menggaungkan ajakan Selasa Berkebaya agar semakin banyak dan semakin sering orang mengenakan busana ini.

"Ternyata tidak hanya di dalam negeri, perempuan-perempuan Indonesia yang tinggal di berbagai belahan bumi ini pun ikut mendukung. Sekarang, setiap hari Selasa, media sosial ramai dengan postingan Selasa Berkebaya," kata Rahmi.

Rahmi berharap, dunia mengenal kebaya sebagai busana asli perempuan Indonesia seperti dikenalnya sari dari India atau kimono dari Jepang. Karenanya frekuensi dan sebaran pemakaian kebaya harus semakin tinggi dan semakin luas.

"Salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan kecintaan generasi muda pada kebaya. Sebab mereka lah yang akan menjaga keberadaan dan kelestarian budaya Indonesia," pungkas Rahmi.



Sumber: Suara Pembaruan