Polri Bersyukur Rusuh di Papua Tak Menelan Korban Jiwa

Polri Bersyukur Rusuh di Papua Tak Menelan Korban Jiwa
Brigjen Dedi Prasetyo. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / DAS Rabu, 21 Agustus 2019 | 12:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mabes Polri bersyukur rusuh di Manokwari dan Sorong, Papua Barat tak sampai menelan korban jiwa. Kendati sekitar 25 bangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial dirusak, rusuh bisa dikendalikan kurang dari 24 jam.

“Alhamdulillah kurang dari 24 jam permasalahan tersebut bisa diselesaikan dengan baik dan alhamdulillah juga tidak ada jatuh korban meskipun ada beberapa kerugian secara materiil,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Selasa (20/8/2019).

Soal kerusakan ini, kata Dedi Prasetyo, pemerintah daerah minimal akan memberikan bantuan dalam rangka memulihkan beberapa properti yang dirusak massa karena mereka terbakar emosi pascahinaan rasis.

“Kondisi sangat kondusif di mana mulai ada kegiatan meski kemarin (Senin, 19/8) masyarakat menyampaikan aspirasinya yang motornya adalah rekan-rekan mahasiswa di depan kantor gubernur, diterima dengan baik dan kegiatan kemarin itu berakhir sampai dengan pukul 20.00 WIT. Semuanya berakhir dengan sangat damai,” tambahnya.

Untuk wilayah Jayapura aktivitas kegiatan masyarakat juga hari ini sangat normal semuanya berjalan dengan baik. Pun di wilayah Papua Barat khususnya Kota Manokwari, kehidupan berangsur  baik.

Kalaupun ada yang sempat menghangat adalah situasi di Sorong. Polisi melakukan perkuatan tenaga pengamanan sebanyak 4 SSK (sekitar 400 orang) dari Polda Sultra, Polda Sulut, Polda Maluku, dan Polda Bali.

Mereka semua sudah settled menempati posisi masing-masing dan hadir di sana untuk memastikan dan menjamin situasi betul-betul berjalan dengan aman dan tertib. Anggota polisi itu tidak membawa peluru tajam.

“Yang jelas apa yang menjadi aspirasi teman-teman mahasiswa maupun masyarakat di Sorong juga sudah diterima, ditampung dan akan diserahkan nanti akan ke pemerintah pusat,” sambungnya.

Polisi terus bekerja mencari penyebar hoax dan melakukan profiling pada akun yang ikut memperkeruh situasi di sana. Ada lima akun di YouTube, Facebook, dan Instagram yang didalami. Akun itu memberikan narasi maupun video yang sifatnya provokatif.

Selain soal akun hoax itu, rusuh dipicu saat aparat dan ormas meneriakan sejumlah kata “kebun binatang” saat mereka mendatangi wisma mahasiswa Papua di Surabaya pada Jumat (16/8). Sejumlah mahasiswa kemudian ditangkap atas dugaan perusakan bendera padahal para mahasiswa mengaku tak tahu menahu perusakan bendera itu dan memang tak ditemukan bukti yang menyatakan mereka merusak bendera. Belakangan para mahasiswa dilepaskan dari Polrestabes Surabaya pada 17 Agustus tengah malam. Namun kata-kata hinaan saat aparat dan ormas berada di wisma mahasiwa terlanjur tersebar.



Sumber: BeritaSatu.com