Industri Otomotif dalam Semangat Menuju Indonesia Unggul

Industri Otomotif dalam Semangat  Menuju Indonesia Unggul
Welding Process at Karawang Plant 2
/ RIX Rabu, 21 Agustus 2019 | 13:00 WIB

Menuju Indonesia Unggul menjadi tema yang diplih pemerintah dalam memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) ke-74 pada 2019. Pilihan tema ini dirasakan sangat tepat di tengah persaingan global yang kian keras di era industri 4.0.

Untuk bisa bersaing sejajar dengan negara lain, setiap komponen bangsa harus mempunyai semangat yang sama, yaitu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang unggul, bersinergi menghadapi berbagai tantangan yang akan semakin berat. Tidak ada pilihan lain, hanya dengan kerja sama yang kuat untuk membangun kompetensi di berbagai sektor, Indonesia bisa merebut peluang di kancah dunia.

Setidaknya, dalam lima tahun terakhir pemerintah telah meluncurkan serangkaian kebijakan untuk meningkatkan daya saing nasional, seperti percepatan pembangunan infrastruktur dan pemangkasan jalur birokrasi. Tidak bisa dimungkiri, berbagai kebijakan ini telah menempatkan Indonesia dalam posisi yang relatif stabil menghadapi persaingan yang semakin keras. Di tengah berbagai gejolak perekonomian dunia, Indonesia tetap mampu mempertahankan iklim perekonomian yang cukup kondusif.

Meski masih diadang beragam tantangan, kondisi perekonomian nasional dalam lima tahun ini tetap memberi peluang dan harapan bagi peningkatan pertumbuhan di berbagai sektor, termasuk industri otomotif. Ini terlihat dari realisasi investasi yang cukup tinggi di sektor ini.

“Investasi-investasi di sektor otomotif menunjukkan pelaku industri melihat potensi dan prospek yang besar di Indonesia ke depan,” kata Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono.
Selama hampir 50 tahun perjalanan di Indonesia, Toyota sangat merasakan potensi Indonesia dalam merebut peluang dan menghadapi berbagai tantangan, sehingga berbagai sektor ekonomi terus berkembang seperti industri otomotif. Di awali sebagai industri subtitusi impor pada era 1970-an, industri otomotif nasional kini telah berkembang dan tercatat sebagai salah satu penyumbang devisa.

Pengalaman tersebut telah menghadirkan semangat optimistis Toyota dalam melihat masa depan industri otomotif nasional. Semangat itu antara lain diwujudkan dalam berbagai kegiatan investasi, pengembangan sumber daya manusia, membangun sinergi dengan industri pendukung dan berkontribusi menyukseskan program pemerintah.

Sepanjang periode 2015-2018, Toyota Group telah merealisasikan tidak kurang dari Rp 20 triliun dana investasi untuk membangun berbagai fasilitas produksi, termasuk pembangunan pabrik baru milik TMMIN di Kawarang yang memproduksi mesin bensin aluminium, mesin R-NR, dengan kapasitas 216 ribu unit per tahun, dan produksi lokal model kendaraan baru. Kehadiran pabrik yang mulai beroperasi pada 2016 lalu, tidak hanya memperkuat posisi dalam kancah industri otomotif nasional, sekaligus telah meningkatkan daya saing Toyota Indonesia menembus pasar ekspor ke berbagai negara.
Didukung peningkatan daya saing perekonomian nasional melalui kebijakan yang kondusif, pasar ekspor TMMIN kini terus berkembang. Dalam lima tahun terakhir, kinerja ekspor TMMIN dalam bentuk kendaran utuh atau completely built up (CBU), meningkat secara signifikan.

2018, ekspor CBU Toyota dari Indonesia berhasil menembus angka lebih dari 200 ribu unit sehingga total ekspor sejak 1987 telah mencapai 1 juta unit lebih. Selain CBU, Toyota sejak lama telah mengeskpor kendaraan dalam bentuk CKD, komponen dan engine yang dipasarkan ke lebih dari 80 negara.

Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan industri kecil menengah (IKM) yang kuat juga dirasakan sangat mendukung bagi Indonesia menjadikan industri otomotif untuk kendaraan menuju Indonesia unggul.
Sejak 2016, TMMIN juga telah meresmikan berdirinya lembaga pendidikan Akademi Komunitas Toyota Indonesia (AKTI) untuk mendidik tenaga ahli yang dibutuhkan industri otomotif ke depan. Dengan investasi Rp 70 miliar, ditargetkan mampu mencetak sedikitnya 10 ribu tenaga ahli yang sangat dibutuhkan sektor industri otomotif dalam 10 tahun kedepan.
Melalui program True Localizatiion, TMMIN telah berhasil menjajaki kerjasama dengan industri hulu seperti perusahaan petrochemical penghasil bijih plastik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dan PT Inalum yang memproduksi aluminium.
Sejalan dengan tantangan ke depan, di samping ikut menyosialisasikan arti penting keberadaan kendaraan elektrifikasi, Toyota juga memberikan dukungan pada studi komprehensif kendaraan elektrifikasi kerja sama antara Kementerian Perindustrian, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi dengan enam perguruan tinggi.

“kami tentu akan mendukung penuh program pemerintah mengembangkan industri kendaraan elektrifikasi ini, dan Toyota memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan teknologi kendaraan elektrifikasi (HEV, PHEV, BEV, bahkan FCEV). Selain kendaraan elektrifikasi penguatan industri hulu (raw material) yang menghasilkan produk bernilai tambah akan menjadi masa depan industri otomotif nasional dan berpeluang besar menjadi salah satu kendaraan Menuju Indonesia Unggul, “ kata Warih. (*)

 



Sumber: Suara Pembaruan