Jateng Ekspor 300 Ton Biskuit ke Bangladesh

Jateng Ekspor 300 Ton Biskuit ke Bangladesh
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat melepas pemberangkatan ekspor biskuit ke Bangladesh di Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Semarang, Rabu, 21 Agustus 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Stefi Thenu )
Stefi Thenu / JAS Kamis, 22 Agustus 2019 | 11:30 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Jawa Tengah mengekspor biskuit ke Bangladesh. Sebanyak 300 ton biskuit dikirim menggunakan 21 kontainer dengan nilai ekspor Rp 5,536 miliar.

Biskuit tersebut diproduksi oleh PT Tiga Pilar Sejahtera Sragen yang bekerja sama dengan United States Agency for International Development (USAID) atau Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika.

"Kita turut serta dalam pemenuhan gizi internasional. Biskuit ini kan tinggi nutrisinya bisa untuk pencegahan stunting," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang melepas pemberangkatan ekspor di Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Semarang, Rabu (21/8/2019).

Pengiriman biskuit tersebut melengkapi jumlah ekspor produk pertanian yang dilakukan Jawa Tengah satu bulan terakhir. Selama ini Jawa Tengah juga terus mengekspor sarang walet senilai Rp 4,2 miliar. Daun cincau 28 kg ke Malaysia. Gula merah ke Sri Lanka sebanyak 3,4 ton. Margarin ke Bangladesh sebanyak 1,2 ton.

"Tentu ini menggembirakan karena bisa berkontribusi positif pada neraca perdagangan. Pesan saya untuk eksportir, kalau makmur petaninya juga harus dimakmurkan," kata Ganjar.

Sampai tanggal 19 Agustus kemarin, produk pertanian telah memberi kontribusi besar pada neraca perdagangan di Jawa Tengah karena telah mengekspor dengan total nilai Rp 586 miliar sejak 1 Agustus 2019. Kepala Balai Karantina Pertanian Ali Jamil mengatakan itu merupakan capaian yang luar biasa.

"Naik 40 persen di periode sama pada tahun lalu. Ini akan semakin bisa melonjak jika bisa memenuhi permintaan daun pakis ke Australia, kemukus, daun pandan, terong 150 ton dari permintaan 500 ton dari Jepang," katanya.

Secara keseluruhan nilai ekspor Jawa Tengah per Mei 2019 mencapai US$ 776,66 juta atau naik 11,81 persen dibanding April 2019, yaitu dari US$ 694,64 juta. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas sebesar 13,14 persen atau dari US$ 685,00 juta menjadi US$ 775,03 juta. Ali mengatakan lonjakan tersebut karena produktivitas masyarakat dan jalinan mesra dengan pemerintah.

"Tapi ya harus terus ditingkatkan. Pak Gubernur ini tadi siap membantu. Untuk flight ke Tiongkok tadi misalnya jika eksportir kesulitan. Ini jalinan luar biasa," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan