Kemdikbud Kembalikan Pendidikan Keputrian

Kemdikbud Kembalikan Pendidikan Keputrian
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy di seminar International Conference on Early Childhood Education and Care of Aisyiyah di FKIP Uhamka, Jakarta, Rabu 21 Agustus 2019. ( Foto: Maria Fatima Bona )
Maria Fatima Bona / Dina Manafe / EAS Kamis, 22 Agustus 2019 | 13:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy akan memperkuat pendidikan keputrian atau pendidikan reproduksi untuk para siswi di sekolah. Pendidikan reproduksi diberikan untuk melengkapi pengetahuan tentang proses tumbuh kembang anak, asupan gizi seimbang untuk mencegah stunting, yang kini masih terjadi di Indonesia.

”Kekurangan gizi seorang ibu itu berimbas pada kecerdasan dan tumbuh kembang anak. Saya merujuk pada pidato presiden yang menekankan pentingnya pendidikan dini, karena pendikan juga terkait dengan kesehatan ibu dan anak. Tingginya angka stunting, disebabkan anak sudah kekurangan gizi sejak dalam kandungan,” kata Mendikbud pada seminar International Conference on Early Childhood Education and Care of Aisyiyah di FKIP Uhamka, Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Diakui Muhadjir, ia sudah berkomunikasi dengan Kepala BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional,red) untuk menguatkan kembali pendidikan reproduksi (keputrian,red).

"Mata pelajaran biologi saja, saya rasa tidak cukup untuk menyiapkan generasi kita menyongsong era cerdas,” kata Muhadjir

Sebelumnya, Kepala BKKN Hasto Wardoyo sempat mengatakan sudah membicarakan pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) secara pribadi dengan Mendikbud. BKKBN sudah memiliki modul-modul bermuatan kespro yang bisa dijadikan acuan. Pendidikan kespro yang dimaksudkan di sini bukan soal seksualitas semata, tetapi kesehatan reproduksi secara keseluruhan, seperti pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, mencegah perkawinan dini, seks pra nikah, dan lain-lain.

Mendikbud menambahkan, pendidikan kesehatan reproduksi sebetulnya bukan hal baru, karena pernah diterapkan sebelumnya dengan nama pendidikan keputrian. Kala itu bahasan yang diberikan seputar masalah keputrian, termasuk kesehatan reproduksi.

Muhadjir menegaskan, pendidikan reproduksi bukan menjadi mata pelajaran baru, tetapi bagian dari ko-kurikuler. Nantinya, tenaga tutor dan materinya melibatkan orang-orang dari BKKBN. Tenaga tutor dapat mengisi materi, misalnya, ketika hari Jumat saat siswa menjalankan salat Jumat, waktu luang untuk siswi diisi dengan materi keputrian.

Pendidikan kespro di sekolah-sekolah juga dinilai sangat penting oleh Hasto, berkaca pada hasil survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menyebutkan, kespro remaja menunjukkan perilaku pacaran menjadi titik masuk praktik perilaku berisiko yang menjadikan remaja rentan mengalami kehamilan di usia dini, kehamilan di luar nikah, kehamilan tidak diinginkan, terinfeksi penyakit menular seksual hingga aborsi yang tidak aman.

Survei juga menunjukkan, sebagian besar remaja wanita (81%) dan remaja pria (84%) telah berpacaran. Sebanyak 45% remaja wanita dan 44% remaja pria mulai berpacaran pada umur 15-17. Sebagian besar remaja wanita dan remaja pria mengaku saat berpacaran melakukan aktivitas berpegangan tangan (64% wanita, 75% pria), berpelukan (17% wanita, 33% pria), cium bibir (30% wanita, 50% pria) dan meraba atau diraba (5% wanita,22% pria). Yang lebih memprihatinkan, di antara wanita dan pria yang telah melakukan hubungan seksual pra nikah, 59% wanita dan 74% pria mulai berhubungan seksual pertama kali pada umur 15-19. Bahkan beberapa remaja mengetahui temannya melakukan aborsi, dan turut menemani atau mempengaruhi untuk menggugurkan.



Sumber: Suara Pembaruan