Anak PAUD Tidak Perlu Menutup Aurat

Anak PAUD Tidak Perlu Menutup Aurat
Sejumlah anak PAUD yang mengikuti program Bidadari Indonesia mengunjungi Fauna Land di dalam wahana Ecopark, kawasan wisata terpadu pesisir Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Rabu (25/4). ( Foto: Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta )
Maria Fatima Bona / EAS Kamis, 22 Agustus 2019 | 13:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan anak yang mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD) tidak perlu diajarkan cara menutup aurat. Muhadjir menegaskan, PAUD adalah pendidikan informal, jadi para guru sebaiknya mengajarkan anak sesuai dengan usianya, jangan memaksa anak menjadi dewasa.

"Ini saya tekankan juga, jangan sampai ada formalisasi PAUD, nanti akan hilang aspek informalnya. Anak PAUD ini tidak perlu aspek formal menanamkan nilai. Misalnya, anak sudah diwajibkan menutup aurat atau menggunakan seragam. Itu sebetulnya tidak perlu, anak PAUD sebaiknya diberi kebebasan selayaknya anak-anak,” ujar Muhadjir, saat ditemui di Uhamka, Rabu (21/8/2019).

Muhadjir juga menekankan, di PAUD tidak boleh ada proses membaca, menulis, dan berhitung (calistung), seperti pendidikan formal. Semisal ada, harus dilakukan dengan cara bermain. Oleh karena itu, Muhadjir menuturkan, sebagai pendidikan informal, PAUD tetap membutuhkan peran ibu untuk selalu mendampingi anak ketika berada di sekolah.

Kemdikbud melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan juga terus menyusun tata kelola guru termasuk guru PAUD, mulai dari persiapan guru PAUD hasil kerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Kemdikbud dan Kemristekdikti bersama-sama mempersiapkan calon guru pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Muhadjir juga mencontohkan Aisyiyah, organisasi wanita yang berjuang untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat di bawah naungan PP Muhammadiyah.

"Aisyiyah ini sudah fokus pada PAUD dari 100 tahun yang lalu, artinya sejarah panjang menangani masalah anak. Jadi pesan saya tradisi ini harus dilanjutkan karena tantangan semakin kompleks pada era digital ini,"ujarnya.

Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PP Aisyiyah, Chandrawaty, mengatakan, para guru sejak awal harus memiliki bekal untuk membaca atau mengikuti karakter anak, sehingga setiap anak diberi pelayanan sesuai dengan kebutuhannya tanpa ada paksaan untuk belajar caslitung pada Taman Kanak-kanak (TK) Aisyiyah.



Sumber: Suara Pembaruan