Ratusan Imigran Demo UNHCR di Medan

Ratusan Imigran Demo UNHCR di Medan
Ratusan imigran asal berbagai negara melakukan aksi demo di deoab Kantor United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di Jl Imam Bonjol Medan, Sumatera Utara (Sumut), Kamis, 22 Agustus 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Arnold Sianturi )
Arnold H Sianturi / JEM Kamis, 22 Agustus 2019 | 15:33 WIB

Medan, Beritasatu.com - Ratusan imigran asal berbagai negara melakukan aksi demo di kantor United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di Jl Imam Bonjol Medan, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (22/8/2019).

Para imigran yang berasal dari negara Sudan, Somalia, Etiophia, Palestina, Irak, Afganistan, Srilanka dan beberapa negara lainnya itu, mendesak UNHCR supaya segera memberangkatkan mereka ke negara tujuan suaka.

Adapun negara tujuan suaka yang diinginkan ratusan imigran itu adalah Australia, Selandia Baru, Amerika, dan Kanada. Para imigran itu mengaku sudah merasa bosan selama bertahun - tahun menjadi pengungsi, meski diberikan makan dan minum oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga yang membantu mereka.

"Kami mengharapkan UNHCR bersama dengan pemerintah Indonesia supaya segera mungkin memberangkatkan kami ke negara tujuan. Kami bersama keluarga bakal tidak mempunyai masa depan bila tidak diberangkatkan," ujar seorang imigran asal Sudan, Ishaq Bahar.

Ishaq mengaku sudah 7 tahun tinggal di Medan dengan menyandang status sebagai imigran. Namun, sampai saat ini, belum ada kejelasan dari pihak UNHCR. Kondisi ini membuatnya merasa jenuh, apalagi negara maupun UNHCR tak memperbolehkan bekerja.

Selama berada di penampungan, kalangan pengungsi hanya mengharapkan bantuan dana dari PBB yang dikelola oleh lembaga nonpemerintah yakni, International Organization for Migration (IOM) dan UNHCR.

Para pengungsi mengaku mendapatkan bantuan biaya hidup setiap orangnya, mulai Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta setiap bulannya. Nilai itu dianggap tidak mencukupi untuk membiayai kebutuhan di Medan. Bahkan, imigran mencurigai bantuan dari berbagai negara dipangkas.

Aiman Nasir, imigran asal Irak menambahkan, bukan hanya biaya hidup tapi masalah pendidikan anak imigran, juga menjadi persoalan utama. Sebab, anak - anak imigran tidak mendapatkan pendidikan secara formal.

"Ini belum termasuk dengan biaya kesehatan yang tidak pernah kami peroleh. Jika ada di antara anak kami yang sakit tidak bisa langsung diobati. Mau berobat ke rumah sakit tidak bisa karena ketiadaan biaya," sebutnya.



Sumber: Suara Pembaruan