Ibu Kota Baru Harus Terapkan Konsep Smart City

Ibu Kota Baru Harus Terapkan Konsep Smart City
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (tengah) bersama Rektor UI Muhammad Anis dan Presiden Direktur Honeywell Indonesia Roy Kosasih (empat kanan) foto bersama usai diskusi terbuka : Perencanaan dan Pembangunan Ibu Kota Negara Berbasis Smart City di Indonesia, di Auditorium K.301 Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (22/8/2019) ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Bhakti Hariani / FER Kamis, 22 Agustus 2019 | 15:59 WIB

Depok, Beritasatu.com - Pemindahan ibu kota negara yang akan dilaksanakan Presiden Joko Widodo di Kalimantan harus sesuai dengan konsep smart city atau kota pintar. Ibu kota baru nantinya harus menjadi kota yang inklusif yang mampu merangkul semua lapisan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang sama.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro mengatakan, ibu kota negara memang harus dipindahkan. Mengingat beban Jakarta yang sudah demikian berat. Pasalnya, pembangunan harus merata dan juga dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia di luar pulau Jawa.

"Membangun ibu kota baru, kami akan terapkan konsep smart city. Ibu kota negara harus modern. Infrastruktur juga harus lengkap. Pelayanan publiknya baik. Transportasi umum layak digunakan dan nyaman. Kami juga akan membangun universitas kelas dunia disana," ujar Bambang dalam diskusi terbuka 'Perencanaan dan Pembangunan Ibu Kota Baru Berbasis Smart City di Indonesia" di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Depok, Kamis (22/8/2019).

Bambang mengatakan, konsep smart city untuk ibu kota baru nantinya juga harus menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali atau liveable city. Misalnya dari sisi air, seharusnya masyarakat tidak perlu lagi membayar untuk mendapatkan air. Serta air dapat langsung dikonsumsi dari keran secara langsung. "Disini diperlukan peran dari para akademisi dan juga sektor swasta untuk sama-sama bersinergi mewujudkan smart city," kata Bambang.

Bambang mengungkapkan, salah satu kota yang menjadi rujukan smart city di dunia adalah kota Melbourne di Australia. Jika melihat ke atas langit Melbourne maka dapat terlihat dengan jelas langit biru cerah yang menandakan kota tersebut terbebas dari polusi udara.

"Kalau di Jakarta beda. Lihat ke atas, langitnya penuh haze atau kabut tapi karena polusi udara bukan karena sejuknya udara," ujar Bambang.

Presiden Direktur Honeywell Indonesia, Roy Kosasih, mengatakan, sebagai perusahaan yang berbasis teknologi dari Amerika Serikat (AS), Honeywell telah membantu beberapa kota pintar yang memiliki pertumbuhan pesat dengan penerapan internet of things (IoT).

IoT digunakan untuk mengatasi berbagai tantangan seperti meningkatkan keamanan, manajemen lalu lintas, pemantauan kerumunan hingga keselamatan pejalan kaki. Beberapa kota yang telah ditangani oleh Honeywell adalah kemitraan untuk mendukung pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) dalam pengembangan kota yang lebih cerdas, ibu kota administratif baru Kairo Baru di Mesir, dan sebagainya.

"Melihat dari bentangan alam Kalimantan, maka konsep smart city ini akan menyesuaikan dengan konsep tata kota dan tata ruang yang ada disana. Teknologi apa yang akan kami terapkan tentunya akan disesuaikan. Tentunya konsep yang nantinya kami terapkan ini akan sangat menunjang sesuai dengan keadaan alam di Kalimantan," ujar Roy Kosasih.



Sumber: Suara Pembaruan